UN Berpihak ke Sekolah dan Siswa Kaya

14 Januari 2010 Berita Pendidikan


Ujian kelulusan, seperti ujian nasional (UN), yang dilaksanakan di tengah kesenjangan mutu pendidikan yang masih menganga, lebar lebih menguntungkan siswa yang berstatus sosial ekonomi dan kondisi sekolah yang baik. Pasalnya, persiapan ujian nasional bisa dilakukan secara maksimal melalui pendalaman-pendalaman materi di sekolah dan luar sekolah yang menuntut pembiayaan tinggi.

Demikian dikatakan Elin Driana, Koordinator Education Forum (EF) dalam pertemuan Tim Advokasi Korban Ujian Nasional dan EF dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal di Jakarta, Rabu (13/1/2010) malam. Dari sejumlah penelitian di dunia, disebutkan terdapat keterkaitan yang erat antara status sosial ekonomi orangtua dan kondisi sekolah dengan prestasi akademis.

Elin mengatakan, penelitian-penelitian yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal internasional menunjukkan dampak negatif yang menyertai kebijakan high stages testing, seperti ujian kelulusan, misalnya UN. Dampak yang menonjol adalah kesenjangan prestasi akademis berdasarkan status sosial ekonomi keluarga siswa.

"Selain itu, meningkatkan risiko putus sekolah. Yang rentan putus sekolah adalah siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, siswa dari kelompok minoritas, dan siswa dengan prestasi akademis yang rendah," katanya.

Fasli mengakui bahwa pelaksanaan UN umumnya tidak jadi momok menakutkan buat sekolah-sekolah dengan kualitas baik. Pada kenyataannya, sekolah berkualitas baik di negara ini masih terbatas dan mahal serta hanya bisa diakses secara leluasa oleh kalangan berpunya.

Fakta-fakta di lapangan yang mengemuka seputar persiapan UN oleh sekolah dan siswa dari berbagai daerah menunjukkan bahwa biaya persiapan UN bisa mencapai jutaan rupiah. Pengeluaran untuk persiapan UN ditanggung masyarakat.

Bahkan, SMP yang menjalankan pendidikan dasar gratis memungut uang dari siswa khusus untuk pendalaman materi UN.

Author: ELN/Editor: made

Sumber: Kompas.Com