UI College, Kurikulum dan Target Kelulusannya Perlu Diperhitungkan

28 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Para mantan lulusan diploma di beberapa fakultas di UI mengatakan, rencana Rektor Universitas Indonesia (UI) membangun 'UI College' bagi program vokasi yang dimulai pada 2010 dirasa perlu dikaji lagi. Khususnya, soal kurikulum dan target kelulusannya.
Dalam pidato wisuda program vokasi jenjang diploma, Jumat (28/8), rektor UI Gumilar mengatakan, program vokasi akan terus dikembangkan di bawah bendera UI College. Dibangun di atas area kurang lebih 10 hektar, UI College, tambah Gumilar, akan menjadi kampus mandiri dengan gedung seluas 120.000 meter persegi yang memiliki fasilitas, ruang belajar, laboratorium, serta fasilitas pendidikan lainnya sesuai dengan perkembangan teknologi.

"Kita mengharapkan, nantinya pertahun UI memunyai mahasiswa program vokasi sampai sepuluh ribu," kata Gumilar.

Dalam upaya perwujudan rencana tersebut, kata dia, saat ini sedang dilakukan proses penggabungan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ke dalam Program Vokasi UI. UI juga tengah merancang pengembangan program pendidikan vokasi jenjang diploma III ke tahapan program pendidikan jenjang diploma IV, yang juga disebut sebagai sarjana terapan.

Menanggapi rencana itu, seorang alumnus Diploma III Fakultas Ilmu Budaya UI angkatan 2000, Alter Somba, menyatakan rencana tersebut tidak ubahnya dengan program diploma sebelumnya yang ada di UI. Khususnya, ujar dia, lebih pada target kurikulum untuk menjadikan lulusannya sebagai profesional di bidangnya.

"Kita seperti tidak tahu, apa sebetulnya target dari kurikulum yang dibuat. Waktu kuliah dulu sampai lulus, keahlian saya justru banyak melenceng dari background kurikulumnya," ujar lulusan program diploma Sastra Jerman ini.

Somba mengaku terus terang, bahwa dia dan mungkin juga teman-temannya, justeru terbantu oleh mata kuliah paket sebagai tambahan. Yaitu, mata kuliah pariwisata, periklanan, perkantoran, atau penyuntingan.

"Latar belakang para dosen pun kebanyakan yang bukan dari fach pengajaran Bahasa Jerman sebagai bahasa asing, sebab dosen kami adalah dosen sastra atau linguistik, tentu itu lebih cocok untuk mahasiswa Sarjana S1 yang membutuhkan banyak teori daripada praktik seperti lulusan diploma," ujarnya yang kini bekerja sebagai orang kreatif di sebuah production house.

Tanggung
Somba menambahkan, untuk menghasilkan tenaga-tenaga terampil tingkat menengah, diploma, hingga sarjana terapan, kiranya UI perlu mengevaluasi perbaikan kurikulum dan target lulusannya. Dalam arti, ada arahan studi yang jelas antara teori dan praktik, sehingga aplikasinya di dunia kerja tidak perlu diragukan.

Tanggapan senada juga datang dari Sukma Ayu, lulusan Program D III Fakultas Ilmu Keperawatan (FKM) UI. Sukma menuturkan pengalamannya menyoal tidak sempurnanya kurikulum di kampus dan aplikasinya di dunia kerja.

"Saya merasa ilmu yang didapat tidak sempurna untuk terjun sebagai profesional, itu terasa betul ketika sudah bekerja," ujar lulusan program Humas Pelayanan Kesehatan ini.

Sebagai calon humas, lanjut Sukma, dia justeru lebih banyak memeroleh materi tentang pelayanan keperawatannnya. Sebaliknya, kebutuhannya tentang teori dan praktik kehumasan hanya diperkenalkan di permukaan.

"Contoh kecil dan sederhana, saya bingung waktu harus membuat press release, karena waktu kuliah itu tidak diajarkan," tambah mantan pegawai rumah sakit di bilangan Pasar Minggu, yang kini banting stir ke bisnis peralatan mendaki gunung ini.

Pengalaman Nurita pun serupa dengan Somba dan Sukma. Lulusan program diploma Bahasa Jerman tahun 1995 ini mengakui, bahwa ilmu yang didapatnya sangat tanggung. Banyak hal yang terpaksa dia pelajari justeru setelah duduk di bangku perkantoran.

"Sebab ilmu yang didapatkan waktu kuliah itu hanya mata kuliah paket tambahan, yang itupun lebih banyak kulit-kulitnya saja diperkenalkan, sehinga begitu masuk ke dunia kerja saya lebih banyak learning by doing, belajar sendiri sambil melakoni pekerjaannya," ujar Nurita.

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief

Sumber: Kompas.Com