UGM Bangun Bank Genetika Sayuran Pertama di Indonesia

29 Agustus 2018 Berita Pendidikan


Universitas Gadjah Mada (UGM) baru saja meresmikan Bank Genetika Sayuran. Pembangunan itu dilakukan sebagai upaya pelestarian plasma nutfah sayuran nasional demi mendukung kedaulatan pangan nasional. Bank Genetika Sayuran berlokasi di komplek Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM di Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY. Pembangunan itu kerja sama dengan PT East West Seed Indonesia (Ewindo).

Peresmian dihadiri Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM Ika Dewi Ana, dan Founder East-West Seed Simon Groot. Turut mendampingi Presiden Direktur PT Ewindo Glenn Pardede, dan Kepala PIAT UGM Taryono. Warek UGM, Ika Dewi Ana mengatakan, kerja sama ini membuka lebih banyak kemaungkinan untuk memperkuat tujuan bersama. Yaitu, mewujudkan cita-cita kedaulatan pangan nasional di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terbesar kedua dunia, sumber daya genetik Indonesia perlu diidentifikasi, dilestarikan dan dikembangkan bersama.

Melalui Bank Genetika Sayuran ini, UGM dan Ewindo turut melaksanakan usaha pelestarian sumber daya genetik Indonesia. Hal itu dilakukan lewat tiga sektor utama yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Selain itu, lewat riset-riset, mahasiswa dan peneliti UGM dapat melakukan identifikasi untuk pembautan paspor berbagai sumber genetika sayuran nasional. Tujuannya, penyusunan big data sumber daya genetika Indonesia.

Bank Genetika Sayuran dapat pula digunakan untuk mengembangkan kualitas benih yang lebih unggul serta tahan penyakit. Terlebih, UGM mengirimkan sekitar 8.000 mahasiswa KKN ke berbagai penjuru di Indonesia. Sebagian mahasiswa KKN ini akan mengambil dan mengoleksi benih sayur-sayuran. Ia berharap, kehadiran Bank Genetika Sayuran ini dapat memberikan manfaat tidak cuma bagi akademisi dan peneliti. Tapi, bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas.

Founder East-West Seed, Simon Groot menilai, pendirian Bank Genetika Sayuran ini merupakan langkah besar dalam menjaga sumber daya genetik sayuran di Indonesia. Harapannya, dapat dihasilkan varietas tanaman sayuran yang unggul. Saat ini, memang telah dilakukan berbagai penelitian dan menghasilkan varietas sayur baru yang tahan hama. Tapi, Groot merasa penelitian-penelitian untuk memperoleh varietas sayuran yang lebih baik lagi tetap perlu dilakukan. Misalnya, tanaman kacang panjang, walaupun sudah ada penelitian yang menghasilkan varietas yang tahan virus, tapi tetap harus meneliti karena pasti akan ada virus lagi.

Kehadiran Bank Genetika Sayuran ini diharapkan tidak cuma sebagai tempat menyimpan dan mengoleksi sumber daya genetik sayuran saja. Tapi, menghasilkan benih unggulan yang bisa dimanfaatkan dan menyejahterakan petani Indonesia.

Bank Genetika Sayuran ini merupakan bank plasma nutfah sayuran pertama yang beroperasi di Indonesia. Dilengkapi ruang penyimpanan benih berukuran 8x12 meter persegi, dan ruang pengujian benih 3x6 meter persegi. Ada pula ruang preparasi benih, ruang penerimaan data, ruang pengeringan benih dan tiga unit screen house nursery masing-masing berukuran 15x18 meter persegi untuk tanaman kacang panjang, cabai dan mentimun.

Bank Genetika Sayuran telah memiliki koleksi sumber daya genetik tanaman 202 aksesi. Jumlah itu meliputi cabai sebanyak 62 aksesi, tomat 12 aksesi, terong 16 aksesi, kacang panjang 30 aksesi dan mentimun 25 aksesi. Selain itu, ada melon dan mentimun suri 27 aksesi, buncis 21 aksesi, jagung manis dan pulut 9 aksesi. Sumber plasma nutfah itu sebagian merupkan hibah dari koleksi yang dimiliki Ewindo.

Keberadaan sumber daya genetik yang ada di Bank Genetika Sayuran ini nantinya dapat dimanfaatkan berbagai kalangan. Terutama, untuk keperluan memperoleh kultivar unggul yang dapat menopang kedaulatan pangan.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)