Tutor, dari Pedalaman Menyemai Ilmu...

7 Januari 2010 Berita Pendidikan


KOMPAS.com - Maaf, Pak, saya pakai sandal, lelaki itu menyapa tiba-tiba. Semalam hujan lebat, kampung saya banjir. Menuju ke sini, jalan licin. Masih jalan tanah, ia melanjutkan.

Siang itu, Minggu pekan lalu, lelaki yang dikira mahasiswa Universitas Terbuka tersebut ternyata seorang pengajar, tutor. Namanya Sudirwan. Kepada mahasiswa semester satu Universitas Terbuka Unit Pembelajaran Jarak Jauh Aceh Tamiang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, ia mengajarkan Bahasa Indonesia.

Tinggal di Desa Harum Sari, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Sudirwan sehari-harinya adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri Blangkandis, Kecamatan Bandar Pusaka. Setiap Minggu dihabiskannya untuk mengajar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia.

Demi pengabdian dan menyemai ilmu, hujan, banjir, dan jalan licin bukan halangan untuk menempuh perjalanan sejauh lebih kurang 100 kilometer pergi-pulang dengan sepeda motor.

Saya tak mau merugikan mahasiswa. Karena itu, apa pun situasi dan kondisinya, saya tetap datang mengajar, ujar Sudirwan di sela-sela jam rehat makan siang. Sudirwan menjadi tutor sejak 2003 setelah mengikuti serangkaian tes dengan persyaratan yang ketat dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pihak Universitas Terbuka.

Tidak hanya pengajar, ratusan mahasiswa juga datang dari berbagai pelosok desa, menempuh perjalanan jauh, puluhan kilometer, bahkan ada yang melebihi 100 kilometer, untuk bisa mengikuti tutorial bersama mahasiswa lainnya. Hujan, banjir, dan jalan tanah yang licin adalah situasi yang mau tak mau harus mereka akrabi. Aceh Tamiang adalah daerah yang rawan banjir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Hari itu ada tiga mata kuliah yang harus diikuti dengan serius supaya hasilnya tidak mengecewakan.

Hadir mengikuti tutorial merupakan suatu keharusan dan kesempatan yang ditunggu-tunggu. Lima hari dalam seminggu belajar mandiri dan Sabtu-Minggu belajar bersama dengan tutor, kata seorang mahasiswa.

Dari 10 lokal yang sempat Kompas pantau, mahasiswa yang umumnya guru-guru lulusan program Diploma 2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar tampak serius mengikuti tutorial.

Kesempatan mengikuti pendidikan program strata satu atau diploma 4 (D-4) di Universitas Terbuka adalah kesempatan untuk mengubah nasib dan menjadikan anak didik lebih pintar dan lebih cerdas.

Jadi guru SD di era global sekarang banyak tantangan. Ilmu pengetahuan terus berkembang sehingga guruwalau tinggal dan mengajar di daerah tertinggalharus terus-menerus belajar, menuntut ilmu, kata mahasiswa Universitas Terbuka, Rosdiana. Karena jika guru berpendidikan tinggi, minimal sarjana, juga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan, ujarnya.

Rutin memantau

Untuk tetap menjaga mutu pembelajaran dan mutu lulusan, Universitas Terbuka yang kini berusia 25 tahun menjadwalkan rutin memantau pengajaran dan pembelajaran tutorial di beberapa daerah di Tanah Air.

Dalam satu semester, mahasiswa wajib mengikuti delapan kali tutorial dan itu setara dengan 14 kali pertemuan tatap muka. Jika kurang dari itu, akan berpengaruh terhadap nilai suatu mata kuliah, kata Enceng, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka, yang hari itu memantau langsung kegiatan tutorial di Kabupaten Aceh Tamiang.

Menurut Enceng, Universitas Terbuka dengan program belajar jarak jauh sangat menuntut kemandirian mahasiswa, prakarsa, dan inisiatif sendiri. Mandiri dengan belajar sendiri, berkelompok, dan atau mengikuti tutorial. Untuk bisa mandiri, dituntut inisiatif dan motivasi belajar yang kuat. Dari pengamatan di sejumlah daerah, hampir tidak ada keluhan mahasiswa, karena dalam sistem belajar jarak jauh dan terbuka tersebut mahasiswa diberikan modul, audio/video/ CD, dan atau bisa belajar secara online, serta belajar melalui radio dan televisi, paparnya.

Enceng menjelaskan, Universitas Terbuka sudah meraih ISO 9001: 2000 untuk bidang layanan bahan ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global pada tahun 2006. Universitas Terbuka juga mendapat sertifikat kualitas dan akreditasi internasional dari International Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA) pada tahun 2005. Universitas Terbuka mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional disesuaikan dengan kebutuhan dan yang belum banyak dikembangkan perguruan tinggi lain.

Sayangnya, satu-dua program yang dibuka belum mendapat perhatian luas masyarakat (calon mahasiswa). Padahal, lulusan program tersebut sangat dibutuhkan semua departemen, seperti lulusan Program Studi Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Sekarang mahasiswa program studi perpustakaan sekitar 300 orang dan itu hanya ada di Solo dan Semarang, katanya.

sumber: kompas.com