Tumbuhkan Minat Baca, Itu Juga Peran Seorang Ibu...

27 Desember 2009 Berita Pendidikan


Ibu memiliki banyak peran. Salah satunya adalah menanamkan kegemaran membaca kepada anak-anaknya. Namun, ibu tidak bisa sendirian menanamkan kegemaran membaca tersebut.

Penulis, pengarang, penerbit, dan perpustakaan juga patut mendorong peran ibu tersebut. Bukan mustahil, jika kesadaran kolektif antara ibu dan masyarakat perbukuan meningkatkan gemar membaca, maka budaya membaca akan tumbuh.

Demikian hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Perpustakaan Nasional RI di Salemba, Jakarta Pusat, pekan lalu. Acara itu dihadiri oleh Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, Duta Baca Indonesia Tantowi Yahya, dan pejabat Pelaksana Tugas Perpustakaan Nasional RI Liliek Sulistyowati.

Tantowi Yahya bilang, ibunya sangat berperan dalam menumbuhkan kecintaan membaca pada anak-anaknya. Ibunda Tantowi tidak memaksa anak-anaknya membaca, tetapi memberi contoh. Dibanding sang bapak, sang ibu memiliki lebih banyak waktu berkomunikasi dengan Tantowi dan saudara-saudaranya.

Ibu punya kekuatan luar biasa untuk membentuk anak. Kalau ibu menggunakan peranannya dalam konteks memberikan contoh baik bagi anaknya, dalam hal ini membaca, Insya Allah anak akan menjadi pembaca," ujar Tantowi.

"Apa yang dilakukan ibu saya sebagai orang kampung yang lulusan madrasah adalah dia tidak memaksa saya untuk membaca. Tetapi, di depan saya dia membaca terus. Jadi, dia memberikan contoh. Contoh itu terlihat dan kemudian terekam seumur hidup saya, tambahnya.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh dalam sambutannya mengatakan, seseorang tidak bisa dipaksa untuk membaca. Gemar membaca bukan lahir karena terpaksa. Oleh karena itu, perlu dilakukan menumbuhkan minat atau ketertarikan membaca.

Bahkan, bukan mustahil jika bahan bacaan itu menarik, maka orang tanpa dipaksa akan mencari bacaan tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyiapkan dan membuat bahan bacaan yang menarik dan atraktif.

Nuh juga mengatakan, masyarakat Indonesia kekurangan kesadaran kolektif dalam meningkatkan budaya baca. Walaupun banyak orang yang gemar membaca di Indonesia, hal itu belum cukup untuk menggerakkan kesadaran kolektif dalam meningkatkan budaya baca.

Untuk menumbuhkan gemar membaca, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan bahan bacaan. Jika bahan bacaan itu berupa buku, maka fisik dari buku itu akan memengaruhi minat orang yang akan membacanya. (TAN)

Editor: latief

Sumber: Warta Kota (kompas.com)