Tracer Study Belum Dimaksimalkan

5 Agustus 2010 Berita Pendidikan


Sebagai sebuah tahapan kegiatan untuk mengetahui kompetensi lulusan perguruan tinggi dengak kebutuhan pasar atau dunia kerja, pelaksanaan tracer study di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia masih ketinggalan di negara-negara lain. Perguruan tinggi di Indonesia terbukti masih lebih mengutamakan menghasilkan lulusan ketimbang bisa memberdayakan kualitas lulusannya, baik pasar kerja maupun dunia wirausaha.

Demikian diungkapkan Direktur Hubungan Alumni UI Drs Arie Susilo dalam seminar nasional dan pelatihan Fase Persiapan Lapangan Tracer Study yang diselenggarakan Career Development Center Universitas Indonesia (CDC UI), di Kampus UI, Depok, Rabu (4/8/2010). Arie mengatakan, ada suatu keharusan bagi perguruan tinggi untuk melacak lulusan atau alumni-alumninya untuk kemajuan perguruan tinggi itu sendiri, alumni, serta masyarakat (user).

"Metodologinya itu yang penting, karena harus tepat sebagai cara memeroleh validitas data lulusan. Selain itu, updating dari tracer study itu juga harus konsisten dilakukan dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang relevan bagi perkembangan kurikulum saat ini dan ke depan, kemajuan alumni dan yang akan lulus, serta kebutuhan masyarakat," ujar Arie.

Arie mengakui, pelacakan (tracing) di UI sendiri pun awalnya masih terpecah-pecah di fakultas. Namun sejak 2000, tracer study mulai dimasukkan dalam skala universitas atau terpusat. "Memang, umumnya kegagalan tracer study itu karena biayanya mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, tetapi justeru di situlah kemajuan suatu lembaga pendidikan tinggi bisa terukur dengan baik," ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit Kurikulum dan Program Studi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementrian Pendidikan Nasional Nursamsiah Asharini menambahkan, tracer study mutlak diperlukan perguruan tinggi sebagai cara memperbaiki kualitas lulusannya.

"Hasilnya bisa menjadi bahan kebijakan pendidikan oleh pemerintah serta pencapaian di perguruan tinggi bisa dipertanggung jawabkan kepada publik, klien, pelanggan, maupun pemangku kepentingan," ujar Nursamsiah.

sumber: kompas.com