TPG Ratusan Guru Terancam

1 September 2009 Berita Pendidikan


Mengapa sampai ada ratusan guru di Bali tidak mampu memenuhi persyaratan minimal jam mengajar 24 jam/minggu, Disdikpora wajib mencari tahu apa penyebabnya, kata Madiadnyana dan Wenten Aryasudha ketika dihubungi Bali Post, Selasa (1/9).

Kendati mengakui ada sejumlah guru yang malas mengajar, keduanya tidak yakin ke-879 orang guru itu tidak mampu memenuhi persyaratan jam mengajar minimal lantaran persoalan yang sama. Dikatakan, jam mengajar guru yang kurus itu bisa jadi juga dipicu oleh kebijakan Disdikpora yang tidak tepat. Misalnya, dalam hal pemerataan jumlah guru antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Di satu sisi, ada sejumlah sekolah yang memiliki guru mata pelajaran tertentu yang bertumpuk-tumpuk. Sementara di sekolah lain, guru mata pelajaran itu justru kekurangan. Penumpukan guru itu jelas akan membuat peluang guru-guru bersangkutan untuk memenuhi beban kerja minimal sangat berat, kata Madiadnyana yang dibenarkan oleh Wenten Aryasudha.

Menyikapi hal itu, keduanya mendesak Disdikpora secepatnya melaksanakan kebijakan pemerataan guru dengan mutasi ke sekolah lain. Jika mutasi ke luar kabupaten/kota lain dianggap sebuah momok yang menakutkan, mutasi itu cukup dilakukan ke sekolah-sekolah yang masih berada di wilayah kabupaten/kota setempat. Saya yakin, penumpukan guru itu masih terjadi di sejumlah sekolah sehingga guru-guru di sana praktis memiliki jam mengajar yang kurus. Makanya, pemerataan guru dengan jalan mutasi merupakan alternatif pertama yang wajib ditempuh oleh Disdikpora, kata Wenten Aryasudha menyarankan.

Lebih lanjut, Madiadnyana dan Wenten Aryasudha juga meminta guru-guru yang kekurangan jam mengajar itu proaktif untuk menambah jam mengajarnya. Misalnya, menutupi kekurangan jam mengajar dengan mengajar di sekolah lain maupun menjadi tutor pada Pelaksana Kelompok Belajar Mandiri (PKBM) atau kelompok belajar lainnya. Alternatif lain yang bisa ditempuh, guru bersangkutan bisa menambah jam mengajarnya dengan jalan memberikan remidi dan bimbingan khusus kepada siswa-siswa yang prestasi akademiknya perlu dimantapkan. Jadi, guru-guru juga wajib proaktif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Jangan melulu bergantung dari belas kasihan pemerintah, kata Madiadnyana mengingatkan.(kmb13)

sumber: balipost.co.id