Tiga Mahasiswa UGM Ciptakan Sepatu Pencegah Kontraktur Kaki

13 September 2018 Berita Pendidikan


Tiga mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi teknologi kesehatan. Kali ini, diwujudkan lewat sepatu yang bisa mencegah kontraktur pergelangan kaki pada penderita kelumpuhan. Inovasi ini baru saja meraih dua medali emas Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Karsa Cipta (PKM-KC) pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 29 Agustus-1 September 2018 lalu di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Mereka adalah Muhammad Fahmi Husaen dan Widiyanto (Komputer dan Sistem Informasi), serta Danar Aulia Hasan (Metrologi dan Instrumentasi). Alat itu dinamai Aveo atau Achilles Physiotheraphu Orthosis.

Pengembangannya berawal dari pengalaman Fahmi yang menderita Duchenne Muscular Dystrophy. Penyakit itu menyebabkan penurunan fungsi otot, sehingga dirinya mengalami kelumpuhan kaki. Karena pergelangan kakinya tidak pernah difisioterapi, Fahmi mengalami kaku dan sulit untuk bergerak. Kondisi ini sering disebut dengan kontraktur angkle akibat kekakuan otot.

Muhammad Fahmi Husaen menginspirasi untuk membuat alat yang bisa membantu mencegah terjadinya kontraktur angkle. Mereka mengembangkan sepatu yang bisa memberikan gerakan otomatis seperti fisioterapi. Sehingga, bisa mencegah kontraktur angkle. Atas bimbingan Budi Sumanto, ketiganya mengembangkan sepatu Aveo sejak April 2018. Sepatu ini dibuat menggunakan motor servo sebagai penggerak utama, yang dihubungkan ke kontroler berbasis Arduino Nano.

Alat itu dilengkapi sensor Gyrscope dan Accelometer, untuk memperkirakan pergerakan sendi sudah maksimal ketika menggunakan mode otomatis. Bahkan, sepatu bisa dikontrol menggunakan aplikasi android di ponsel pintar. Jadi, pengguna bisa mengatur derajat kemiringan dan kecepatannya, bisa menggerakan angkle kaki 20 derajat ke atas dan 45 derajat ke arah bawah.

Danar Aulia Hasan menjelaskan, Aveo terbagi jadi dua bagian yaitu yang menyangga kaki bawah dan betis, serta bagian penyangga kaki. Keduanya dibuat menggunakan plastik politetilen yang dihubungkan engsel aluminium dan ke motor servo sebagai penggerak. Sedangkan, untuk sumber listrik, sepatu menggunakan baterai dengan daya 7.4 volt Baterai dan kontroler ini ditempatkan dalam bagian yang menyangga kaki bawah dan betis dan. Jika durasi fisioterapi yang umumnya dilakukan selama 30-6- menit, dengan sepatu Aveo fisioterapi bisa diperpendek menjadi 15-30 menit saja.

Sepatu Aveo tidak cuma membantu mencegah kontraktur angkle penderita kelumpuhan, tapi membantu penderita melakukan fisioterapi secara mandiri. Widiyanto menambahkan, saat ini mereka terus melakukan penyempurnaan. Salah satunya dengan meningkatkan keamanan agar memenuhi standar peralatan medis. Selain itu, akan ditambahkan sejumlah sensor yang salah satunya untuk mendeteksi gerakan otot. Untuk pembuatan alat ini kemarin membutuhkan biaya sekitar Rp 2 jutaan, namun jika nantinya bisa diproduksi massal harga produksi bisa ditekan hingga Rp 1,5 juta.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)