Tidak Ada Sekolah Gratis di Jatim

9 September 2009 Berita Pendidikan


Beberapa waktu lalu, Gubernur Jatim, Soekarwo, mengganti istilah sekolah gratis dengan istilah sekolah murah berkualitas. Hal itu mengindikasikan dengan tegas bahwa tidak ada sekolah gratis di Jawa Timur, kata Suwanto.

Menurut Suwanto, istilah tersebut cenderung disalahartikan masyarakat. Karena itu, Suwanto lebih memilih istilah sekolah yang dibiayai pemerintah. Namun, tidak seluruh kebutuhan sekolah ditanggung pemerintah, karena anggaran pemerintah juga terbatas, tuturnya.

Pembiayaan sekolah yang ditanggung pemerintah itu, lanjut Suwanto, meliputi 13 item yang masuk dalam biaya operasional sekolah. Di antaranya SPP, sarana administrasi sekolah, dan sarana belajar mengajar.

Sedangkan kebutuhan individu siswa seperti biaya transportasi, seragam, buku penunjang, makan-minum, serta kebutuhan investasi, masih dibebankan pada siswa dan wali murid.

Meski begitu, mantan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Jatim ini menyatakan, tidak ada perubahan signifikan dalam penerapan sekolah murah di dua kabupaten/kota yang menjadi pilot project, yakni Sampang dan Bondowoso.

Dipaparkannya, seluruh biaya operasional pendidikan di tingkat SD dan SMP di dua kabupaten/kota itu telah ditanggung oleh Pemprop Jatim. Alokasi biaya operasional sekolah (BOS) yang telah disiapkan dari pemerintah pusat sebesar Rp 33.000 per siswa SD per bulannya dan Rp 48.000 per siswa SMP per bulannya.

Namun, kata Suwanto, terjadi perbedaan dalam perhitungan di lapangan. Kebutuhan riil di Sampang dan Bondowoso itu ternyata Rp 35.000 per siswa SD per bulan dan Rp 100.000 per siswa SMP per bulannya.

Itulah sebabnya ada kekurangan Rp 2.000 untuk SD dan Rp 52.000 untuk SMP. Ini akan kita tanggung bersama kabupaten/kota setempat, ujarnya.

Ditambahkannya, selisih pembiayaan pendidikan itu akan ditanggung dengan model sharing 60-40. Pemprop menanggung 60 persen dan kabupaten/kota menanggung 40 persen.

sumber: dutamasyarakat.com