Telkom Luncurkan I-Chat untuk Siswa ABK

19 April 2010 Berita Pendidikan


BANDUNG, KOMPAS.com - PT Telekomunikasi Indonesia meluncurkan aplikasi dan portal yang akan membantu guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Tuna Rungu dan orang tuanya dalam proses belajar bagi anak berkebutuhan khusus dalam hal pendengaran. Untuk pengembangan aplikasi itu, Telkom menginvestasikan dana senilai Rp 1 miliar.

Pengembangan aplikasi bernama i-CHAT yang dilakukan sejak 2007 ini bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan SLB Cicendo untuk pembelajaran bahasa dan komunikasi tuna rungu dengan fokus pada penyusunan kalimat berstruktur. Pada 2009 lalu, aplikasi tersebut dikembangkan kembali dengan menambahkan beberapa modul, di antaranya modul kamus.

i-CHAT sendiri merupakan kepanjangan dari "I Can Hear and Talk". Sasarannya untuk memberikan sarana media bagi komunitas tuna rungu di Indonesia untuk berinteraksi dan saling berbagi ilmu dan pengetahuan.

Program ini terbagi ke dalam lima modul utama, yakni modul kamis, isyarat abjad, isyarat bilangan, modul tematik, serta modul menyusun kalimat. Aplikasi dibuat dalam dua mode, yakni mode offline, yaitu user harus melakukan instalasi program di komputernya dan mode online, yang mengharuskan user menjalankan aplikasinya dengan mengakses situs http://www.i-chat.web.id.

"Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kapasitas para guru di Indonesia, selain juga dapat menjadi metode pembelajaran bahasa sehingga mereka yang berkebutuhan khusus pendengaran mampu berkomunikasi, bersosialisasi, serta tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya orang normal," ujar Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah di Menara RDC Telkom di Kota Bandung, Jumat (16/5/2010).

Rinaldi menambahkan, gagasan penciptaan teknologi ini didasarkan pada pemikiran bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mampu memberi manfaat besar bagi manusia, baik itu untuk yang normal maupun yang berkebutuhan khusus.

"Pengembangan bahasa untuk para siswa tuna rungu ini agar mereka mampu berprestasi dan mandiri seperti anak-anak normal serta mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya termasuk dalam sosialisasi," ujarnya.

sumber: kompas.com