Televisi Berdampak Buruk bagi Anak

16 Desember 2009 Berita Pendidikan


KULON PROGO, KOMPAS.com Lama menonton televisi terbukti berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak usia 5-10 tahun. Karena itu, pendidikan kekritisan terhadap media perlu diterapkan mulai dari lingkup keluarga hingga institusi pendidikan.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY Rahmat Arifin, dalam Sosialisasi Penyiaran di Bidang Literasi Media di Pengasih, Kulon Progo, menyampaikan hal itu, Selasa (15/12/2009). Ia mengatakan, tayangan televisi memang cukup baik untuk memperkaya wawasan para penontonnya. Namun, jika tidak disaring, banyak informasi yang juga bisa menyesatkan.

Menurut penelitian KPID DIY, tayangan bertema kekerasan akan meningkatkan perilaku agresif anak. Sementara itu, tayangan yang bersifat fantasi akan menyulitkan mereka membedakan realitas dan khayalan. Tayangan-tayangan dalam bentuk iklan komersial juga memicu hidup konsumtif terhadap anak.

"Mayoritas tayangan televisi telah membentuk pola pikir yang sederhana bagi anak-anak. Mereka menjadi kurang kritis terhadap informasi yang diterima," kata Arifin.

Ia menambahkan, kebiasaan menonton televisi dalam waktu lama juga akan membentuk karakter anak menjadi individualis. Mereka tidak lagi tertarik bermain dengan teman-teman sebaya. Hubungan antarsesama anggota keluarga pun terancam renggang. Dari sisi kesehatan, menonton televisi terlalu lama akan memicu obesitas anak karena terlalu banyak mengemil selama menonton.

Karena itu, KPID DIY mengimbau semua pihak untuk melek media. Masyarakat seharusnya kritis terhadap jenis-jenis program tayangan televisi bagi anak-anak mereka.

Selain itu, orangtua juga harus membatasi durasi menonton televisi bagi anak menjadi hanya 2-3 jam per hari. KPID mengklaim, rata-rata anak menghabiskan waktu 35 jam per minggu. "Jumlah ini tidak sebanding dengan waktu belajar mereka di sekolah, misalnya, yang hanya 30 jam," kata Arifin.

Menurutnya, belum semua masyarakat kritis terhadap tayangan televisi. Karena itu, pendidikan media seharusnya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dan pendidikan keluarga, serta mulai disampaikan kepada anak-anak sejak pra-sekolah.

Salah satu peserta sosialisasi, Yadi Haryadi, berharap agar pendidikan media juga dilakukan oleh KPID secara tegas. Sejauh ini, KPID dinilai belum tegas dalam menindak beberapa tayangan televisi yang kurang pantas, memuat unsur kekerasan, mistis, dan seksualitas yang vulgar.

"Meski KPID sudah mengeluarkan peringatan, kenyataannya acara televisi yang dilarang tetap juga tayang. Ini menyulitkan kami, selaku orangtua, dalam menyeleksi tontonan yang baik bagi anak," kata pekerja swasta itu. Sumber: regional.kompas.com