Takut Merapi Meletus, Ratusan Siswa Enggan Sekolah

5 November 2010 Berita Pendidikan


KLATEN - Kegiatan belajar mengajar siswa SD di luar kawasan rawan bencana (KRB) III Kecamatan Kemalang kacau. Pasalnya, siswa yang berasal dari luar Desa Sidorejo, Balerante dan Tegalmulyo ketakutan dengan kemungkinan letusan enggan masuk atau meminta sekolah dipulangkan lebih awal.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Kemalang, Drs Trimo menjelaskan ada tiga desa di luar KRB yang terpengaruh karena khawatir dengan letusan. Di tiga desa masing-masing Desa Tlogowatu, Panggang dan Talun itu ada tujuh SD. Jumlah siswanya mencapai 820 siswa.

"Saat siswa khawatir banyak yang minta izin dan minta dipulangkan awal sampai pukul 09.00," ungkapnya, Rabu (3/11).

Menurutnya, meski siswa di tiga desa itu tidak terkena dampak letusan secara langsung seperti abu vulkanik atau kegiatan mengungsi warga tetapi siswa resah. Kekhawatiran siswa tersebut terjadi sejak dua hari lalu setelah ada letusan besar beberapa kali.

Siswa yang tidak tenang meminta dipulangkan bahkan ada yang tidak bisa melanjutkan proses belajar mengajarnya.

Meski proses belajar mengajar tidak diungsikan dan tetap memakai ruangan SD asal tetapi nyatanya siswa tidak berani. Meski guru sudah memahamkan siswanya tetapi karena kondisi kejiwaan siswa cemas terpaksa dipulangkan. Dari laporan terakhir di Desa Tlogowatu bahkan ada dua SD yang tidak belajar sejak pagi.

Pasalnya, jika malam hari orang tua mereka sebagian memilih mengungsi ke balai Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko. UPTD tidak bisa berbuat banyak sebab siswa yang meminta. Untuk diminta bergabung dengan pengungsi jelas tidak mungkin karena terbatas.

Selain siswa di luar KRB, khusus siswa yang mengungsi juga terkendala hal yang sama. Banyak siswa tidak belajar karena ikut orang tua mereka kembali ke rumah.

Siswa Cemas
Siswa yang ingin pulang ke rumah asal, kata Trimo, membuat enggan mengikuti pelajaran. Meski demikian UPTD berusaha untuk memahamkan siswa pentingnya belajar meskipun tidak bisa memaksa.

Dikatakan Pengawas TK dan SD, Kecamatan Kemalang, Sujono meski sudah direncanakan dengan matang sejak awal tetapi kondisi kekhawatiran siswa tidak bisa dikendalikan. "Mestinya yang di luar KRB tidak tetapi nyatanya ikut," jelasnya.

Dikatakannya, kecemasan siswa dari luar KRB wajar sebab orang tua mereka juga cemas. Untuk pelaksanaan belajar di tenda sebenarnya sudah disiapkan sebaik mungkin tetapi kecemasan tidak bisa dihindari.

Tini (11) siswa kelas II SD Bono Kidul, Desa Sidorejo bahkan memilih mengisi hari-harinya di barak dengan bermain. Sejak mengungsi baru sekali dia masuk sekolah di SDN I Keputran, Kecamatan Kemalang. Kondisi barak yang ramai membuatnya tak tenang belajar.

Apalagi, kata Tini, di satu kelas yang diikutinya, siswa dicampur dengan siswa kelas I dan III. Ramai dan tidak tenang belajar membuatnya memilih tidak masuk sekolah. "Sekolah jadi satu jadinya tidak tenang," ungkapnya.

Tidak hanya siswa, menurutnya pengajarnya pun tidak sama lagi dengan sekolah asal sehingga tidak nyaman. Dia mengaku masih untung belajar di ruangan karena ada siswa yang terpaksa belajar di tenda tengah lapangan.

Kondisi tenda belajar dari pantauan masih cukup baik, namun di barak pengungsian Desa Keputran ada satu tenda diisi oleh siswa dari dua sekolah berbeda karena kondisi darurat. Siswa terpaksa belajar dengan cuaca panas dan jam belajar berakhir lebih awal.

Sumber: suaramerdeka.com