Tak Kendur Sebelum Bertempur

4 Mei 2010 Berita Pendidikan


Dalam sehari itu, Ade menerima lima panggilan telepon. Semuanya dari orang tua teman anaknya yang duduk di kelas IV sekolah dasar. Menurut wakil presiden di sebuah butik batik ternama di Ibu Kota ini, para orang tua itu panik menghadapi ujian nasional yang akan tiba Senin depan.

"Mereka cemas dan ketakutan. Kata mereka, 'Yang ujian si anak, eh yang panik dan senewen mereka'," kata wanita berjilbab ini. Jadilah Ade sebagai tempat curahan hati demi menenangkan rekan senasibnya sesama orang tua.

Ade memilih bersikap tenang dalam menghadapi ujian nasional buah hatinya, Fathir. Seminggu menjelang hari-H, Ade justru membebaskan Fathir dari kegiatan belajar supaya merasa rileks. Putra keduanya itu dipersilakan rehat, seperti bermain video game, menonton film, pergi ke toko buku, bermain, dan makan di restoran.

Lho, tidak khawatirkah Ade kalau hal itu akan berdampak buruk, misalnya Fathir tidak lulus ujian? Dengan mengulum senyum, Ade menjawab diplomatis, "Bagi saya, cara efektif adalah proses (belajar) panjang sebelum ujian. Jadi tak perlu panik sebelum bertempur," ujarnya.

Ade menambahkan, perang atau pertempuran seharusnya dimulai jauh-jauh hari lewat perjuangan atau upaya mempersiapkan diri. Nah, perjuangan atau proses panjang inilah yang ia genjot habis-habisan setiap hari. Tampaknya, Fathir paham dan suka dengan cara seperti ini.

Ade yakin upaya ini sebagai wujud persiapan mental bagi anaknya. Selain itu, ia melengkapinya dengan persiapan spiritual pada malam hari, berupa berdoa secara khusus melalui salat hajat dan tahajud. "Fathir suka bangun malam untuk salat dan belajar," ucapnya.

Bisa jadi sikap tenang Ade inilah yang membuatnya diburu para orang tua teman anaknya sebagai tempat curhat dan berbagi tip. Psikolog anak, Anna Surti Ariani, memberikan acungan jempol terhadap sikap Ade. Menurut dia, banyak anak menghadapi ujian nasional (UN) seperti menghadapi perang yang menakutkan.

"Akibatnya, kendur (semangat) dulu sebelum bertempur. Mental dan spiritualnya tidak disiapkan dengan baik," katanya.

Anna prihatin lantaran kini masalah UN menjadi monster mengerikan, bukan hanya bagi anak, tapi juga buat para orang tua. Apalagi dengan standar kelulusan siswa yang lebih ketat. Menurut Anna, pembekalan mental dan spiritual ini untuk meningkatkan rasa percaya diri dan ketenangan saat menghadapi UN.

"Harapan saya, orang tua menyadari hal ini sebagai kegiatan yang bermakna sugesti positif, sangat bermanfaat, dan memberikan kekuatan bagi siswa," ujarnya.

Anissah Kostrach, psikolog dan spiritualitas, mengamini perkataan Anna. Pembekalan mental spiritualitas justru memberikan dorongan positif untuk anak dalam menghadapi UN. "Yang perlu diingat justru upaya pelatihan dan proses belajar sebelumnya, yaitu saat mereka berlatih dengan aneka soal."

Namun Anissah mengingatkan, ujian sebagai bagian dari proses belajar, jadi tidak digenjot habis-habisan saat ujungnya saja. Dia mengutip pengalamannya dulu: jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan UN, dia sudah maksimal belajar dan berusaha. Justru di ujung atau pekan akhir menjelang ujian bersama teman-teman, dia melakukan refreshing atau kegiatan rileks, seperti berenang, ke salon, nonton, dan makan. "Pokoknya kegiatan fun yang tidak menegangkan."

Gina Ardiany Karsana, pemilik beberapa sekolah Highscope dan taman bermain anak My Playmal, justru mengingatkan orang tua agar jangan berlebihan dalam menyikapi UN. "Khawatir boleh-boleh saja, namanya juga orang tua, tapi harus tenang, biar anaknya tidak gugup dan gelagapan," dia menambahkan.

Selain itu, menurut Gina, persiapan mental tidak hanya saat menghadapi ujian. "Justru persiapan mental setelah bertempur sangat penting. Artinya, anak harus siap gagal dan berhasil, supaya tidak ada kegundahan mendalam atau penyesalan seumur hidup," ujarnya.
Bersiap Menghadapi Ujian
Dalam rentang waktu panjang, misalnya 3-6 bulan sebelum ujian, usahakan rajin membahas soal pelajaran di sekolah atau di tempat kursus.Dengan metode belajar bersama teman, ciptakan suasana belajar untuk menyelesaikan soal-soal ujian seperti sedang menghadapi ujian sesungguhnya. Jangan malu bertanya dan ajukan persiapan matang belajar soal-soal ujian dengan guru di sekolah atau guru les bimbingan di luar sekolah.Selain rajin serta tekun belajar, persiapkan mental dan spiritual. Misalnya, selain salat lima waktu (bagi yang beragama Islam), lakukan salat hajat, tahajud, serta puasa Senin dan Kamis, termasuk di agama lain, yang intinya memberikan ketebalan iman supaya mendapat hasil terbaik apa pun itu, gagal atau sukses.Menjelang hari-H, misalnya dua hari sebelumnya, lakukan aktivitas penyegaran, seperti berolahraga, pergi ke taman, toko buku, bermain, dan menonton, yang intinya untuk mengistirahatkan sejenak kepenatan yang melanda anak selama belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. HADRIANI PSumber: Tempointeraktif.Com