Tak Berprestasi, Kasek Turun Jadi Guru

11 September 2009 Berita Pendidikan


Proses serah terima jabatan (sertijab) 142 kepala sekolah (kasek) baru di Surabaya kemarin berjalan lancar. Mutasi besar-besaran untuk jabatan kasek sepanjang 2009 itu tidak berhenti begitu saja.

Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya tetap berencana melakukan mutasi tambahan, tapi sebelumnya akan melihat dulu kinerja kasek lain di Surabaya. Ke-142 kasek baru di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) itu resmi menjalani tugas di sekolah baru. Mereka ini adalah hasil seleksi kemampuan guru yang dijalankan Februari lalu. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Ketenagaan Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya Yusuf Masruh, kasek yang terpilih adalah tenaga pengajar terbaik di Surabaya.

Pada formasi baru kemarin ada 126 kepala SD dan 16 kepala SMPN yang menempati jabatan baru di sekolah. Dari total 142 kasek yang ditempatkan di pos baru itu, tidak semuanya kasek lama. Ada 10 kasek SD baru yang sebelumnya guru dan enam kepala SMP baru.Kasek baru itu adalah para guru yang lolos dari berbagai tes kemampuan serta manajerial sekolah. Kasek baru yang ditempatkan di 142 sekolah adalah yang lolos audit internal dan kemampuan personal dianggap layak memimpin sekolah, ujar Yusuf ketika ditemui usai sertijab kasek baru di SMKN 6 Surabaya kemarin.

Menurut informasi yang dihimpun Seputar Indonesia (SI), selain proses mutasi besar-besaran, ada juga 40 kasek SD yang masuk masa pensiun tahun ini. Kasek yang memilih jadi pengawas sekolah ada tujuh orang di jenjang SD dan satu kasek tingkat SMP. Sisanya adalah posisi kosong karena kaseknya harus kembali jadi guru. Kasek yang harus jadi guru itu karena prestasinya minim dan kemampuan manajerialnya buruk. Dindik sendiri tidak segan menurunkan jabatan kasek menjadi guru ketika kinerja sekolah terus menurun.

Kepala Dindik Surabaya Sahudi menambahkan, Dindik memang sengaja melakukan audit internal pada semua kasek dan guru. Upaya itu untuk meningkatkan kinerja pengajar serta pejabat di sekolah. Dindik tidak mau kasek hanya ongkang-ongkang di sekolah tanpa berusaha meningkatkan output serta proses pembelajaran dan kepemimpinan yang baik di sekolah. Audit internal bisa mendeteksi kekurangan itu serta mengambil tindakan yang tepat sebagai solusi, ungkapnya.

Makanya, kata Sahudi, tidak menutup kemungkinan mutasi kasek terus berlanjut. Guru juga punya kesempatan jadi kasek ketika prestasinya menonjol. (aan haryono)

Sumber: Seputar-Indonesia.Com