Tahun Ajaran Baru, Guru Jangan Jual Buku

27 Juni 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Menjelang tahun ajaran baru, orang tua calon siswa tengah dipusingkan dengan berbagai biaya yang harus dikeluarkan. Salah satunya terkait penyediaan buku pelajaran yang setiap tahunnya selalu berganti.

Pasalnya meski biaya pendidikan ditanggung pemerintah melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), namun penyediaan buku kerap menjadi celah oknum guru untuk menangguk keuntungan dari para siswa. Hal tersebut terungkap dalam dialog Suara Wakil Rakyat yang bertemakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, di Jakarta, kemarin.

Biasanya dengan alasan pendalaman materi, masih ada saja buku yang harus dibeli orang tua, ujar Ny. Marni, Minggu (26/6). Dikatakan Ny.Marni, seharusnya pemerintah tidak mengubah materi pelajaran yang ada. Sehingga buku yang yang digunakan tahun sebelumnya bisa diwariskan ke adik kelas.

Keresahan yang sama juga diungkapkan Wardi, orang tua siswa lainnya. Menurutnya, meski secara tegas pemerintah melarang sekolah maupun guru menjual buku namun tidak menutup kemungkinan, ada yang oknum pendidik mengarahkan siswa untuk membeli buku di toko rekanannya. Seperti tahun lalu saya harus mengeluarkan uang Rp200 ribu untuk beli buku anak saya. Padahal katanya seluruh biaya dan sarana pendidikan ditanggung pemerintah, tandasnya.

Menanggapi hal ini Ardo Prayoga, Pengamat Pendidikan, menilai hal ini terjadi lantaran sistem pengelolaan pendidikan yang ada saat ini dinilai belum sepenuhnya efektif dan efisien. Akibat terdapat tumpang tindih kebijakan. Terutama terkait kurikulum pelajaran yang di sekolah masing-masing.

Sehingga jangan heran jika setiap tahunnya selalu berubah-ubah. Akibatnya lagi-lagi masyarakat yang dirugikan karena harus membeli buku pelajaran yang baru.

Hal ini diperparah dengan mentalitas pelaku pendidikannya seperti guru yang masih gemar mengambil keuntungan dari orang tua siswa. Pemprov DKI Jakarta harus tegas terhadap oknum guru yang seperti ini. Sehingga pelayanan pendidikan dapat berjalan maksimal, ujar Ardo.

Dalam kesempatan yang sama anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Nawawi, menilai adanya masalah ini lantaran minimnya pengawasan yang dilakukan terhadap pelaksanaan pendidikan di setiap sekolah.

Di satu sisi orang tua enggan melaporkan masalah ini lantaran khawatir anaknya akan mendapat intervensi dari pihak sekolah. namun di sisi lainnya hal ini kerap memberatkan orang tua siswa. Seharusnya praktik-praktik ini bisa diantisipasi dengan menempatan satu pegawai dinas di setiap sekolah, ujarnya Nawawi.

Hal yang sama juga dikatakan anggota Komisi E lainnya, Dwi Rio Sambodo. Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan sanksi tegas berupa pemecatan selayaknya dilakukan jika terdapat oknum guru yang kedapatan melakukan hal ini. Pasalnya dengan gaji yang cukup tinggi, tidak ada alasan lagi guru mengambil keuntungan dari orang tua siswa.

Bila perlu akam berdampak efek jera, lakukan pemecatan, tegasnya.

Menanggapi hal ini Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudhi Mulyanto, menegaskan pada dasarnya penyediaan buku pelajaran telah ditanggung oleh pemerintah melalui dana BOS dan BOP. Namun ia tidak menampik jika memang terkadang masih diperlukan buku tambahan bagi siswa.

Namun guru maupun sekolah yang bersangkutan tidak diperkenankan untuk menjual buku. Silahkan orang tua membeli buku tersebut di toko buku di luar sekolah, ujar Taufik.

Lebih lanjut Taufik menjelaskan terkait penyediaan buku pelajaran telah masuk dalam salah satu 14 item di dana BOS dari pemerintah pusat dan 7 item dana BOP dari pemerintah daerah. Adapun untuk tingkat SD setiap siswa berhak memperoleh dana BOS sebesar Rp400 ribu pertahun dan BOP sebesar Rp720 ribu.

Untuk tingkat SMP setiap siswa berhak mendapat dana BOS sebesar Rp575 ribu pertahun dan BOP sebesar Rp1.320.000. Sementara untuk tingkat SMA, subsidi pendidikan hanya diperoleh melalui dana BOP yakni sebesar Rp900 ribu persiswa setiap tahunnya. Sehingga jangan coba-coba ada guru yang menjual buku pada siswa. tegasnya.

Sumber: poskota.co.id