SNMPTN: Diundur, Karena Budaya Suka Mengulur...

2 Juni 2010 Berita Pendidikan


Ketua Forum Rektor PTN Haris Supratno mengatakan, mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 di saat-saat akhir dan bahkan sangat mepet dengan batas waktu pendaftaran adalah kebiasaan umum orang Indonesia dan sudah menjadi budaya. Akibatnya, pendaftaran SNMPTN yang tahun ini dilakukan secara online terganggu lantaran akses internet ke situs SNMPTN macet saking tingginya pendaftar di saat bersamaan.

Haris mengatakan, penyebab diperpanjangnya batas akhir pendaftaran Seleksi SNMPTN 2010 memang lebih dikarenakan tingginya jumlah pendaftar di saat-saat akhir. Hal tersebut mengganggu traffic para peserta yang mengakses situs SNMPTN dan sulit melakukan pendaftaran. Kejadian tersebut tercatat mulai Sabtu (29/5/2010) dan puncaknya terjadi kemarin, Senin (1/5/2010).

"Dulu sudah kita prediksi soal ini, ini karena budaya orang Indonesia sendiri yang walaupun sudah diberi waktu yang panjang tetap ambil kesempatan di akhir, suka mengulur waktu," ujar Haris kepada Kompas.com, Selasa (1/6/2010).

Haris menuturkan, penetapan waktu sebulan pendaftaran sejak 1 sampai 31 Mei 2010 merupakan waktu yang panjang. Bahkan, dengan pendaftaran sistem online tahun ini diharapkan sangat memudahkan peserta, karena mereka dapat mendaftar tanpa kenal waktu, baik pagi, siang, malam, bahkan saat libur sekalipun.

"Sejak awal Mei kami sudah melakukan rapat, ternyata pendaftarnya masih sangat sedikit dari kuota yang kami targetkan, yaitu hampir 400 lebih. Waktu itu kami baru mendapatkan sekitar 130-an, padahal itu sudah satu setengah bulan," ujar Haris yang juga Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Budaya mepet waktu, sebut Haris, ternyata betul terjadi. Bahkan, di saat ada libur 3 hari ini di akhir Mei dan menjelang batas pendaftaran SNMPTN pun tidak dijadikan kesempatan untuk melakukan pendaftaran.

"Mereka malah memilih hari Senin, hari terakhir, sehingga terjadilah overload menuju akses ke situs SNMPTN," kata Haris.
Penulis: LTF/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com