SLB Khawatirkan Sosok Pengawas Silang

8 April 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Para guru di sekolah luar biasa (SLB) saat ini mengkhawatirkan berlakunya aturan baru tentang pengawas silang pada saat berlangsungnya ujian nasional (UN) nanti. Para guru khawatir, kedekatan emosi antara siswa dan guru akan mempengaruhi siswa dalam menjawab soal-soal pada UN.

Meski penyilangan pengawas UN itu dilakukan antara sesama sekolah SLB, tetapi perbedaan kriteria siswa SLB menjadi kendala tersendiri. Hal itu mengingat, SLB membagi kriteria siswa berdasarkan golongannya, seperti tuna netra masuk dalam golongan A, tuna rungu golongan B, golongan C untuk siswa tuna grahita ringan, dan C1 untuk tuna grahita sedang.

Para guru menilai, siswa SLB berbeda dengan siswa di sekolah umum. Teknik pendekatan dan cara menyampaikan materi juga menggunakan cara berbeda.

"Kami khawatir, soal kedalaman pengawas dalam menguasai huruf brille. Untuk menyiasati kekhawatiran ini, maka pengawas akan didampingi," kata Ngatijo, guru di SLB Pembina, Kamis (7/4/2011), Jakarta.

Ia mengatakan, lembar jawaban untuk siswa tuna netra akan disalin pengawas ke dalam lembar jawaban normal. Selanjutnya, lembar jawaban dikirim ke Rayon dengan melampirkan lembar jawaban aslinya.

Maryoto, guru di SLB Negeri 1 Jakarta, juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai pengawas silang. Ia khawatir akan munculnya rasa takut pada siswa karena merasa diawasi oleh orang yang tidak dikenalnya. Mengingat kemampuan setiap pengawas dan siswa sama-sama berbeda, ia berharap para pengawas dapat memahami dan jangan terlalu idealis.

"Selain penyilangan pengawas, aturan baru pada UN kali ini juga mengharamkan guru mata pelajaran yang diujikan dalam UN untuk menjadi pengawas pada UN," ujar Maryoto.

Sumber: kompas.com