SLB, Bak Pungguk Rindukan Bulan...

8 April 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Berdasarkan pantauan Kompas.com di beberapa sekolah luar biasa (SLB), Kamis (7/4/2011) siang, di Jakarta, umumnya SLB belum memahami betul hal-hal baru pada ujian nasional (UN) tahun ini. Para guru yang ditemui mengatakan, sosialisasi tentang UN masih kurang optimal.

Hal itu tampak dari ketidakpahaman para guru mengenai aturan-aturan baru UN 2011. Ketidakpahaman tersebut misalnya, tidak adanya pengawas independen saat berlangsungnya UN, keterlibatan perguruan tinggi, serta pendistribusian soal dan mekanisme pengacakannya.

Salah seorang guru SLB di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengungkapkan, sosialisasi tentang pengacakan soal dan lain-lainnya baru akan dilaksanakan pada Jumat, 14 April 2011. Sementara, di sekolah umum lainnya, sosialisasi mengenai UN sudah dilaksanakan tak kurang dari dua pekan lalu.

Kesenjangan semacam itu juga terlihat pada anggaran UN. Beberapa SLB mengaku hanya mendapatkan Rp 15 ribu per siswa, yang akan diberikan beberapa minggu setelah UN. Sementara untuk sekolah umum, menurut pengakuan mereka, anggaran dana UN di DKI Jakarta sekitar Rp 50 ribu.

Tak heran, para guru di SLB saat ini mengeluhkan hal tersebut. Menurut mereka, SLB selalu ditempatkan di belakang, bak pungguk yang selalu rindukan bulan.

Hal tersebut seharusnya tidak terjadi, karena peserta didik SLB adalah siswa yang "luar biasa", bukan siswa normal. Untuk itu, para pembimbingnya laik mendapatkan anggaran dan perhatian yang juga luar biasa. Apalagi, Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dengan anggaran pendidikan yang begitu besar dan penyandang gelar Kementerian terbaik, semestinya dapat memberikan perhatian lebih pada SLB.

Seperti diberitakan, Maryoto, seorang guru di SLBN 1 Jakarta mengungkapkan, kendala yang cukup mengganggu pada pelaksanaan UN di sekolah luar biasa (SLB), adalah belum disalurkannya anggaran UN dan penomoran peserta UN. Ia sendiri tidak tahu penyebab anggaran UN selalu terlambat disalurkan.

Selain itu, Maryoto juga belum mengerti sumber anggaran UN yang bisa didapatkan sekolah. Sejauh ini, kata dia, tak mungkin sekolah meminta dari para orangtua murid. Dia merasa, sampai saat ini SLB memang selalu dinomorduakan, bahkan hanya untuk penomoran peserta UN.

"Saya kurang tahu juga, entah mengecilkan atau apa. Karena sekolah umum sudah mendapatkan nomor peserta ujian, di sini belum," kata Maryoto, Kamis (7/4/2011).

Maryoto mengeluhkan pembagian nomor peserta UN yang terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan. Hal itu akan merepotkan pihak sekolah dalam penyusunan dan strategi pengacakan soal.

"Terlalu mepet karena kita harus menyusun nomor, lembar jawaban, dan mekanisme pengacakan soal," tukasnya.

Sumber: kompas.com