Siswa TK/SD Terima Makanan Tambahan

22 September 2010 Berita Pendidikan


LEBAK - Untuk mendorong tingkat partisipasi siswa di jenjang pendidikan dasar, terutama siswa di daerah terpencil seperti di 25 kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 114.710 siswa di 569 sekolah dasar dan 81 taman kanak-kanak mendapatkan makanan tambahan. Makanan tambahan dari bahan pangan lokal akan diberikan 3-4 kali dalam satu minggu.

Pemberian makanan tambahan ini akan berlanjut terus. Kalau hanya diberikan sekali, tidak akan ada hasilnya. Lagipula kalau dimulai dari TK/SD hasilnya baru terlihat 6-10 tahun mendatang. "Karena itu program ini paling tidak harus dipertahankan hingga 6-10 tahun," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh ketika berkunjung ke SD Jaya Sari dan SD Negeri 1 Muara Dua, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (21/9/2010).

Wilayah Lebak dipilih, lanjut Nuh, karena memiliki tingkat kemiskinan hingga 54 persen atau terendah di wilayah Banten jika dilihat dari tingkat kesehatan anak, tingkat partisipasi sekolah, dan rentang waktu pendidikan. Meski angka partisipasi murni pada jenjang pendidikan dasar di Lebak telah mencapai 95 persen, tetap saja masih ada anak-anak yang tidak bisa masuk sekolah karena kemampuan fisik yang minim atau kurang gizi.

Tetapi tidak semua begitu. Ada pula yang tidak bisa sekolah mungkin karena jarak sekolah yang jauh atau juga karena ada ketidakmampuan pembiayaan. "Yang jelas kita tidak ingin ada lost generation sehingga dari sisi gizinya kita intervensi sekarang," kata Nuh.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara mengakui adanya masalah disparitas wilayah Banten yang sangat memengaruhi tingkat partisipasi siswa di sekolah. Berbeda dengan wilayah lain yang berbatasan dengan ibukota provinsi seperti Tangerang yang lebih berkembang, kabupaten Lebak, Serang, dan Pandeglang jauh tertinggal.

Untuk mendorong ketertinggalan, kata Eko, pemerintah provinsi selama ini mengutamakan peningkatan kualitas pendidikan di ke-3 wilayah itu, antara lain dengan mengembangkan kualitas guru. Angka putus sekolah dari SD ke SMP membaik tetapi dari SMP ke SMA cukup tinggi. "Angka partisipasi kasar untuk SMA saja masih di bawah rata-rata nasional, 56 persen," ujarnya.

Sumber: edukasi.kompas.com