Siswa Singapura Belajar Ukir dan Membatik

11 Juni 2010 Berita Pendidikan


Sebanyak 30 siswa dan empat guru pendamping Pasir Ris Secondary School (PRSS) Singapura berkunjung ke SMPN 2 Jepara, Rabu (9/6) sore. Kedatangan mereka bertujuan untuk belajar dan praktik mengukir. Ternyata susah juga ya mengukir, tutur Noridah Dalil, salah seorang guru pendamping.

Ibu guru yang mengenakan jilbab itu terus mencoba mengayunkan ganden (palu kayu) dan mengarahkan tatah ke gambar pola. Hal serupa juga dilakukan Andrew Lim AH, penanggung jawab pendidikan keterampilan di PRSS.

Fahd Mohd Said mewakili sekolahnya menyatakan sangat senang bisa berkunjung ke Jepara yang terkenal dengan seni ukir dan industri mebel. Anak-anak yang ikut ke Jepara adalah siswa tahun ketiga (setara kelas 9 SMP), yang rata-rata berusia 15 tahun.

Kepala SMPN 2 Jepara Drs H Ali Maksum mengatakan, kunjungan PRSS merupakan bagian dari kegiatan sister school. Januari 2010 SMPN 2 Jepara berkunjung ke PRSS. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara didampingi Kasi SMA/SMK Tika Kartika SPd berharap kerja sama kedua sekolah semakin baik. SMPN 2 Jepara sebagai SMPP RSBI pertama di Kabupaten Jepara, tahun pelajaran 2010/2011 akan memasuki tahun ketiga.

Batik Tulis Siswa PRSS juga mengunjungi SMP Negeri 2 Pekalongan untuk belajar membatik. Mereka diterima Kepala SMPN 2 Pekalongan Drs Sugiyo dan Kepala Dindikpora Drs Abdul Jalil di ruang pertemuan sekolah. Anak-anak setingkat SLTP di Singapura itu selain membuat batik cap, juga belajar batik tulis yang bahannya disediakan SMPN 2 Pekalongan.

Pasir Ris, kata Drs Sugiyo, sudah mengadakan kerja sama dengan SMPN 2 Pekalongan. Dalam kunjungan ke Singapura beberapa waktu lalu, siswanya didampingi guru belajar ke sekolah Negeri Singa untuk mempelajari kurikulum di sekolah tersebut. Kami akan memasukkan pendidikan karakter, pengembangan teknologi yang mengglobal, dan pembelajaran berbasis jaringan internasional, katanya.

Sementara itu, dalam kunjungan ke SMP 21 Semarang, siswa PRSS melakukan kegiatan belajar-mengajar langsung bersama murid di dalam kelas, mengadakan pertandingan persahabatan seperti sepak bola daan voli, diajak belajar karawitan dan menari, serta mengunjungi objek wisata Kelenteng di Gedung Batu, replika kapal Cheng Ho, dan lokasi wisata lainnya.

Kepala Sekolah SMP 21 HM Suyadi SH SPd MM menjelaskan, kunjungan mereka merupakan kunjungan balasan untuk bertukar budaya dan kurikulum. Menurut Suyadi, sekolah yang dipimpinnya menargetkan bisa menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) paling lama lima tahun sejak sekolahnya merintis menjadi SBI dua tahun lalu. (kar,A15,E1-37)

Sumber: Suaramerdeka.Com