Siswa SD Menganiaya Teman Sebaya, Menambah Catatan Hitam Pendidikan di Indonesia

6 Mei 2014 Berita Pendidikan


Hanya dalam waktu tidak sampai sebulan, beberapa catatan hitam menimpa dunia pendidikan Indonesia. Belum lama ini, masyarakat Indonesia digemparkan dengan kasus siswa sekolah dasar menganiaya teman sebayanya hingga tewas. Padahal, kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak belum juga tuntas. Hingga kini, kasus kekerasan terhadap dan yang dilakukan anak di bawah umur sangat banyak.

Kemungkinan hal ini dikarenakan orangtuanya salah mendidik dan mungkin mereka memberi banyak tekanan pada anak tersebut. Selain itu siaran televisi juga bisa memengaruhi anak melakukan tindak kekerasan. Pasalnya, banyak siaran televisi yang tidak pantas bagi anak-anak. Sementara faktor lainnya adalah lingkungan dan pergaulan. karenanya orangtua harus memantau keseharian anaknya seperti apa.

Sementara itu, seorang siswa SMA mengaku terkejut mengetahui kasus penganiayaan yang dilakukan siswa SD kepada teman sebayanya. Apalagi, korban sampai meregang nyawa.

"Jika anak SMA dan mahasiswa yang melakukan masih masuk akal, kalau yang melakukan anak SD aku enggak habis pikir. Perbuatan itu harus diberi pelajaran yang setimpal, dia harus dapat tamparan. Ada yang salah dengan pendidikan karakter dari keluarga atau orangtua. Jika kecil saja sudah melakukan perbuatan seperti ini, bagaimana nanti dewasanya," ungkapnya.

"Faktor-faktor penyebabnya adalah dari teman-temannya juga, orangtua murid dan guru. Butuh pendampingan dari orangtua murid, karena pengaruh sosial tidak berpengaruh besar dan anak SD di rumah saja, belum pernah merokok dan apalagi narkoba, dia masih anak kecil, lingkup jangkauan sosialnya masih juga kecil," paparnya.

Tersangka bisa dihukum karena telah melakukan tindak kriminal. Meski hak-haknya diakui berdasarkan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) anak, hukum tetap harus dijalankan biar adil.

"Ditindaklanjuti bagaimana generasi mudanya, sistem hukum dan pendidikan Indonesia harus diperbaiki yang paling utama pendidikan dari orangtua. Pemerintah lebih menyosialisasikan kepada orangtua murid, seperti menghadapi anak bagaimana," tuturnya.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)