Siswa dengan Nilai UN Rendah Masih Bisa Masuk Perguruan Tinggi

11 April 2015 Berita Pendidikan


Tahun ini bisa dibilang sangat revolusioner. Beberapa sistem lama kini diubah sedemikian rupa demi mengikuti tuntutan zaman yang kini semakin canggih dan menuntut kualitas SDM.

Mulai dari kebijakan nilai UN yang tidak lagi menjadi standar kelulusan hingga sistem UN bebasis komputer (CBT). Kini, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam, mengatakan, sekolah tidak berhak menahan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) dan ijazah.

Nilai yang didapat siswa, berapapun harus terima hasilnya. Jadi, nantinya tidak ada lagi istilah tidak lulus, hanya saja belum mencapai standar yang ditentukan oleh Badan Standar Nasional dan Pendidikan (BSNP) Kemdikbud yang kini memiliki rata- rata 5,5 per mata pelajaran.

"Meskipun mendapat nilai tiga, siswa tetap berhak menerima SKHUN, ijazah dan melanjutkan ke perguruan tinggi," ujar Nizam, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Jadi, poin pentingnya oleh Nizam ditegaskan bahwa siswa yang akan mengulang hanya diperbolehkan mengulangi mata pelajaran yang tidak lulus sesuai dengan standar Kemdikbud, dan tetap dapat masuk ke perguruan tinggi meskipun nilanya tidak mencapai standar. Hal ini dapat dipertimbangkan dari nilai rapor dan mutu sekolah.

Ia menegaskan, bagi "Ada salah persepsi yang mengatakan siswa tidak memenuhi target BSNP tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi," ujar Nizam.

Bagi siswa yang nilainya di atas 6,0, Nizam mengatakan, tidak diperkenankan mengulangi. Tujuannya, agar siswa tidak menyepelekan UN dan mau belajar yang sungguh-sungguh. Selain itu, untuk menentukan integritas kejujuran, yang dilihat dari siswa, guru, dan sekolah dalam pelaksanan UN.

Nizam dan pihaknya kini memiliki metode untuk menanggulangi setiap tindak kecurangan/ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN. Untuk metodenya sendiri, Nizam mengatakan pihaknya tidak akan membocorkan menggingat akan ada yang mengakali bila dibocorkan. Metode tersebut dapat mendeteksi seberapa banyak siswa kerja sama saat UN atau mengetahui ketika melakukan tindakan menyebarkan sontekan.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)