Sistem Reproduksi Masuk Pelajaran Anak untuk Kurikulum 2014

20 Mei 2014 Berita Pendidikan


Kata ‘perlindungan’ menjadi tekanan dalam setiap upaya pemenuhan hak anak, yang diartikan sebagai segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hak nya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian serta mendapat perlindungan atas tindakan kekerasan dan diskriminasi. Tanggung jawab dalam memberikan perlindungan menyeluruh terhadap pemenuhan hak-hak anak di dalam Undang-Undang ini di bebankan kepada negara dan pemerintah, masyarakat serta orang tua.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh memastikan pelajaran sistem reproduksi masuk dalam kurikulum 2014. Dia mengatakan kebijakan itu merupakan salah satu bentuk pencegahan tindak kekerasan seksual pada anak.

Dalam kurikulum tersebut, anak kelas 1 SD sudah mulai diberikan pelajaran sistem reproduksi. "Pelajaran reproduksi untuk anak kelas 1 SD jangan dibayangkan dijelaskan secara biologi, tapi masuk dalam tema," kata Nuh.

Nuh mencontohkan, tema tentang kebersihan diri pun bisa memuat materi soal pelajaran reproduksi itu. "Menyangkut kebersihan diri, (dijarkan) termasuk underwear awareness. Jadi, anak-anak diajarkan untuk lebih perhatian terhadap daerah-daerah tubuh yang ditutupi underwear," kata Nuh.

Contoh cara pengajaran soal kesadaran pengenaan pakaian dalam itu pun dituturkan Nuh. "Yang ditutupi itu barang mahal. Barang mahal pasti dirangkapi dobel-dobel. Beda dengan kuping, dahi yang dibiarkan terbuka kan," kata dia di Kantor Kemendikbud.

Selain pendidikan sistem reproduksi, imbuh Nuh, kurikulum 2014 juga memasukkan pendidikan pemberdayaan anak. Adapun pendidikan agama dan budi pekerti tetap menjadi pendidikan yang wajib ada dalam kurikulum 2014.

Menurut Nuh, pada akhir Mei 2014 akan ada aksi yang ditandatangani para aktivis dan lembaga sebagai bagian dari komitmen untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak. Dia menyebutkan beberapa aktivis dan lembaga yang terlibat dalam aksi itu antara lain Yeny Wahid, Linda Gumelar, KPAI, dan Kementerian Kesehatan.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari Kompas.com)