Sistem Pendidikan Tanpa Arah

6 Januari 2010 Berita Pendidikan


Sistem pendidikan tambal sulam, parsial, dan tak membumi menjadi potret dunia pendidikan Indonesia hingga kini. Demikian terungkap dalam seminar refleksi akhir tahun tentang pendidikan oleh Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung di aula Bapelkes Provinsi Lampung, kemarin (30-12).
"Sistem pendidikan kita saat ini sangat parsial dan bergerak tanpa arah yang jelas. Akibatnya, kebijakan tambal sulam menjadi ciri pengembangan dunia pendidikan kita selama ini," ujar Pemimpin Umum Lampung Post Bambang Eka Wijaya dalam seminar tersebut.

Bambang mengatakan kebijakan tambal sulam terjadi karena selama ini Indonesia tidak pernah memiliki grand design atau konsep utuh menyeluruh mengenai bagaimana membangun dan mengembangkan pendidikan nasional. "Kebijakan menjadi parsial dan bergantung keadaan. Kebijakan baru diambil jika terbentur permasalahan di lapangan," kata dia.

Ia mengatakan dunia pendidikan juga tidak memiliki tokoh, tak ada simbol. Ide besar yang mengemuka yang menjadi semacam penuntun untuk bergerak dalam dunia pendidikan. "Tidak ada pertarungan antara ide-ide besar dari para pemikir yang membangun dan menginspirasi laksana Soekarno, Semaun, Tan Malaka, M. Yamin serta tokoh-tokoh lain yang telah memberi sumbangsih konsep pemikiran bagi Indonesia," kata Bambang.

Sementara itu, Febri Hendri dari Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan dunia pendidikan kini tak jauh berubah dengan pendidikan zaman kolonial tempo dulu."Sistem pendidikan telah menciptakan kasta-kasta baru dalam dunia pendidikan, tak ubahnya seperti yang berlaku pada zaman kolonial dahulu," kata dia.

Febri menjelaskan adanya pengklasifikasian sekolah seperti sekolah percontohan, rintisan sekolah nasional, sekolah berstandar nasional hingga sekolah berstandar internasional merupakan wujud dari pengastaan tersebut. Sementara itu, Sutopo Ghani dari Dewan Pendidikan Provinsi Lampung menyatakan mau tidak mau, suka tidak suka, ada generasi yang harus menjadi korban dari sistem pendidikan ini.

"Namun, kita tidak perlu khawatir. Tahun 2014 ketika tenaga-tenaga guru telah dihasilkan dari proses yang sesuai dengan kompetensi dan undang-undang, anak cucu kita akan menikmati pendidikan yang lebih baik," kata dia. Sekretaris umum FMGI Lampung Gino Vanoli di sela-sela acara mengatakan Undang-Undang Sisdiknas meski terdapat beberapa pasal yang kontroversial dan mengalami perdebatan bisa diterima sebagai konsep ideal membangun pendidikan di Indonesia.

"Namun, persoalan yang terjadi adalah perbedaan dalam penafsiran undang-undang tersebut antara pemegang kebijakan dan mereka yang berada di lapangan," kata Gino. Gino menawarkan sudah selayaknya pemerintah kini menyusun grand design pendidikan di Indonesia untuk jangka panjang. Sehingga, ketika berganti menteri dan pemerintahan, kita tak perlu serta merta mengubah kebijakan di bidang pendidikan. n MG14/S-2

Sumber: Lampungpost.Com