Sinergi UGM-Keraton Agar Hasilkan Inovasi Pendidikan dan Kebudayaan

20 April 2012 Berita Pendidikan


YOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada diharapkan bisa bersinergi dengan Keraton sebagai entitas kebudayaan dalam mendorong kemajuan peradaban bangsa di bidang pendidikan dan kebudayaan. Harapan itu merupakan kesinambungan hubungan UGM-Keraton yang sudah terjalin sejak berdirinya kampus UGM. Bahkan masa-masa awal eksistensi UGM, tidak lepas dari dukungan Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang mencita-citakan agar UGM menjadi "Miniatur Indonesia" di bidang pendidikan.

Hal itu disampaikan oleh ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam diskusi 'Sinergi UGM dengan Keraton untuk Kemajuan Bangsa' di gedung University Club, Kamis (19/4/2012). Sinergi UGM-Keraton menurut hemat Sultan harus menerapkan tiga prinsip dasar, pertama kesediaan untuk saling berbagi. Tanpa kesediaan untuk saling berbagi , sinergi tidak bisa terlaksana.

"Dengan saling berbagi ide, pengetahuan, keahlian, dan pengalaman, sinergi bisa dilakukan. Di sinilah kekuatan dari sinergi itu dapat ditemukan," katanya.

Kedua, berpikir "menang-menang". Karena dalam bersinergi, tidak ada pihak yang harus kalah atau menang. Sebaliknya, semua pihak dapat menikmati kemenangan dan manfaat yang jauh lebih besar daripada jika mereka mengerjakannya sendiri-sendiri.

Ketiga, menghargai perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan yang unik kemudian dijalin kerjasama kreatif-inovatif yang menghasilkan alternatif ketiga memberikan manfaat optimal bagi pihak-pihak yang bersinergi.

Sultan juga mengusulkan model sinergi dalam bentuk "triple helix", yakni kerjasama antar inovator pemerintah, universitas, lembaga riset, dan industri. Kerjasama tersebut didorong untuk penciptaan, penyebaran, dan penggunaan ilmu pengetahuan guna pencapaian inovasi proses perwujudan ide-ide kreatif, hingga menghasilkan output yang memiliki nilai akademik, nilai budaya maupun nilai ekonomis.

Di tempat yang sama Budayawan Prof Dr C Bakdi Soemanto, SU, mengatakan, Keraton adalah gudangnya warisan budaya yang memiliki rentang sejarah yang panjang. Oleh karena itu, UGM bisa menggunakan Keraton sebagai sumber ilmu yang terus digali, diseminarkan dan disebarluaskan. Tidak hanya itu, UGM bisa belajar banyak tentang kerendahan hati sosok Sri Sultan HB IX dan semangatnya untuk tetap mencintai kebudayaan sendiri. "Semangat Keraton sangat merakyat, paling tidak lewat sinergi Keraton-UGM ini akan mengembalikan UGM kepada rakyatnya dengan sebutan universitasnDesa yang membangggakan," ungkapnya.

Sumber: kompas.com