Siang Ini, Binus Pentaskan "Rama dan Sita"

27 Januari 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com Sukses mementaskan The Chronicles of Narnia, The Lion, The Witch and The Wardrobe, Selasa (26/1/2010) siang, Binus International School atau BIS menggelar Rama dan Sita.

Pentas drama tersebut merupakan kegiatan konser akhir tahun ajaran (annual year end concert) BIS yang diadakan setiap tahunnya sejak 2007. Tahun ini, mereka mementaskan Rama dan Sita di Teater Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

A Clarence Gonzales, sutradara pementasan, mengatakan bahwa naskah drama klasik yang digunakan ini menggunakan naskah asli yang diperuntukkan bagi pertunjukan sekolah. Menurutnya, hal itu untuk menghidupkan kembali keindahan dan keagungan kisah kepahlawanan yang abadi ini.

Menampilkan musik, tarian, dan lagu dari siswa-siswi, staf sekolah, dan juga orangtua siswa, Clarence mengatakan bahwa tiap detail kostum, tata rias, dan properti drama ini dibuat sendiri oleh mereka.

"Proses pemilihan pemainnya tidak mudah karena harus melalui seleksi ketat, dan masing-masing pelakon disesuaikan dengan talenta masing-masing, baik itu bernyanyi, menari, memainkan alat musik, maupun akting. Audisinya pun terbuka bagi semua siswa mulai dari early years sampai high school (HS), termasuk dukungan orangtua, guru dan staf," kata dia.

Dengan sinergi itu, Clarence menambahkan bahwa pementasan drama kali ini bertujuan bukan hanya sebagai hiburan dan pembentukan citra positif bagi sekolah, melainkan sekaligus untuk memberi kesempatan dan pengalaman yang tidak hanya bermanfaat bagi bakat dan kemampuan siswa-siswi di bidang seni, tetapi juga mengembangkan kepercayaan diri mereka sebagai fondasi kokoh masa depannya.

Nilai kepahlawanan


Mengambil kisah Rama dan Sita adalah keunikan dan pengalaman tersendiri bagi para pemainnya, yang semuanya adalah warga Binus, sebagai institusi pendidikan. Ini merupakan sebuah kisah peperangan antara kebaikan dan kejahatan yang terus-menerus terjadi.

"Rama dan Sita menceritakan sosok pahlawan yang bertarung melawan siapa saja yang tidak menghormati Dharma, refleksi dari hukum terhadap masyarakat," kata Clarence.

Menurutnya, diceritakan pula tentang analisis mistis Ramayana berhubungan dengan perjuangan melawan alam dan godaan jahat yang mengganggu hubungannya dengan kekuatan suci. Untuk itulah, Clarence berujar bahwa pentas siang ini diharapkan bisa menghidupkan kembali keindahan dan keagungan kisah kepahlawanan yang abadi ini, sebagai cermin kehidupan yang perlu dicontoh oleh masyarakat.

sumber: kompas.com