Siaga Bencana Harus Menjadi Lifestyle

22 Desember 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA - Membangun budaya siaga dan budaya aman di sekolah sangat dibutuhkan agar generasi muda yang hidup di negara yang rawan bencana ini memiliki gaya hidup ketahanan menghadapi bencana. Sekolah tidak cukup hanya memberikan simulasi bencana, namun juga membuat rencana manajemen bencana yang melibatkan semua pihak di sekolah dan masyarakat sekitar.

Ninil RM dari Konsorsium Pendidikan Bencana dalam Konferensi Sekolah Aman yang berlangsung hingga Selasa (21/12/2010) di Jakarta, mengatakan pengarusutamaan pendidikan resiko bencana di sekolah sudah direspons pemerintah lewat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Karena itu, manajemen sekolah perlu dipersiapkan untuk mampu mengimplementasikan sekolah aman yang meliputi sikap dan tindakan, kebijakan sekolah, perencanaan kesiapsiagaan, hingga mobilitas sumber daya.

Konferensi itu dihadiri sejumlah organisasi masyarakat dan pendidik dari berbagai daerah di Indonesia itu dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN), Plan Indonesia, dan UNESCO. Kegiatan tersebut sebagai bagian dari mengkampanyekan sekolah aman yang telah menjadi isu global yang diamanatkan salah satu Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ninil mengatakan, program pengurangan resiko bencana di sekolah ini sebenarnya sudah berjalan. Ada yang menyebutnya sebagai sekolah siaga bencana, pengurangan risiko bencana berbasiskan sekolah, program kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana, hingga sekolah aman.

R Kuberan dari lembaga swadaya masyarakat SEEDS yang mengkampanyekan Sekolah Aman India mengatakan, kerawanan bencana di India dan Indonesia hampir sama, kecuali gunung api. Pemerintah India telah mewajibkan sekolah memiliki rencana manajemen bencana sejak 2005.

Menurut Kuberan, pendidikan kebencanaan untuk anak-anak di sekolah justru potensial. Anak pun berpotensi untuk bisa mempengaruhi orang tua dan lingkungan sekitarnya.

"Sekolah efektif untuk menanamkan nilai-nilai membangun budaya aman," ujar Kuberan.

Dalam konferensi internasional tentang Sekolah Aman di India tahun 2007 lalu ada komitmen supaya tidak ada kematian anak-anak di sekolah sebagai hasil pencegahan bencana pada 2015 nanti. Manajemen bencana diperkenalkan di kurikulum. Di kampus pun diadakan kursus atau pelatihan manajemen bencana.

Kuberan menjelaskan, pendekatan sekolah aman dengan memastikan struktur bangunan sekolah yang aman dan juga yang nonstruktur. Selain itu, disediakan pendidikan kesadaran bencana pada siswa dan guru serta pelatihan untuk P3K, pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR), evakuasi, serta menyiapkan rencana manajemen bencana sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, perlu adaanya pemetaan yang dapat menggambarkan tingkat macam kebencanaan dan resiko di sekolah. Dengan demikian ada gambaran tindakan yang perlu diprioritaskan.

"Kalau dari pemetaan, risiko terbesarnya karena kondisi fisiknya, perlu didorong supaya dibangun sekolah yang aman secara fisik. Nanti bisa saja sekolah aman ini jadi salah satu kriteria dalam pemanfaatan dana alokasi khusus untuk rehabilitasi sekolah," ujar Fasli.

Sumber: kompas.com