Semangat Belajar Pantang Menyerah

3 September 2009 Berita Pendidikan


PESERTA program kesetaraan baik Paket A. B, maupun C, memiliki berbagai alasan yang akhirnya mendorong mereka untuk mengambil program ini.

Pada umumnya, alasan utama yang lazim ditemui di berbagai PKBM adalah masalah keterbatasan finansial peserta yang mengharuskan mereka meninggalkan bangku sekolah formal. Upi hanya salah seorang dari sekian banyak peserta program paket kesetaraan yang terpaksa hengkang dari sekolahnya karena masalah ini.Dengan agak malu Upi mengaku dirinya putus sekolah selepas SD.Awalnya Upi ragu ingin melanjutkan sekolah di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar masyarakat).

Ia hanya ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Namun, atas bujukan sang kakak, akhirnya gadis berusia 16 tahun ini mengambil program Paket B di PKBM 26 Bintaro. Alhasil sudah dua bulan belakangan Upi bergabung dengan teman lain yang mempunyai kasus serupa seperti dirinya di PKBM itu. Menurut Upi, belajar di PKBM murni harus belajar mandiri karena keterbatasan waktu belajar dan fasilitas. Tampaknya keterbatasan itu tidak menjadi halangan bagi dirinya untukmengenyamilmu.

Upi yang ingin melanjutkan ke Paket C ini,bahkan memiliki cita-cita tinggi ingin menjadi perawat, Yah kalau ada biayanya, imbuh gadis yang tinggal di Sektor 5 Bintaro ini. Jika faktor ekonomi menjadi alasan Upi, lain lagi dengan Suprayogi dan Nasrullah. Mereka terpaksa mengambil program kesetaraan karena masalah kenakalan yang mereka lakukan.Waktu kelas 3 SMP saya pernah tinggal kelas, akhirnya orangtua bilang daripada menghabiskan biaya untuk sekolah mendingbelajar di PKBM aja,ujar Yogi sapaan akrabnya yang bergabung di PKBM Bina Bangsa Bersama (PKBM BBM).

Yogi berpendapat pengajaran yang diberikan di PKBM tidak jauh berbeda dengan di sekolah formal. Jika ada kesulitan ia pun tidak segan bertanya kepada tutor yang ada. Nilai plus belajar di sini, peserta juga diberikan keterampilan komputer termasuk penggunaan internet.Yogi yang mengikuti pelatihan internet selama sebulan yang diselenggarakan oleh PKBM BBM mengaku kini sudah mahir berselancar di dunia maya. Ia pun menjadi tempat bertanya bagi peserta lain.

Bukan hanya software, peserta PKBM ini juga diajak mengenal berbagai peranti keras komputer.Bekal keterampilan ini dirasakan sangat berguna bagiYogi. Ia tertarik mempelajari keterampilan ini karena di rumah keluarganya membuka servis barangbarang elektronik. Meski baru sebulan belajar ini, Yogi sudah dipercaya oleh tetangganya menangani masalah komputer milik mereka. Awalnya sempat ragu juga, tapi tutor saya selalu memberikan dorongan.

Dia bilang kalau misalnya enggakngertii letak kerusakannya di mana bisa diskusi dengan dia lewat telepon, papar pemuda berusia 19 tahun ini. Yogi bersyukur dengan keterampilan yang didapat ia bisa menerima panggilan yang menambah pemasukannya. Bahkan, pemuda yang tinggal di bilangan Cidodol, Kebayoran Lama ini, dipercaya oleh pihak PKBM BBM sebagai tenaga administrasi di sana. Ia pun kapok melakukan kenakalan lagi dan bahkan ingin serius melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Nasrullah peserta PKBM 26 Bintaro memiliki pengakuan senada. Nasrullah yang putus sekolah karena perilakunya ini, kemudian dimasukkan ke PKBM oleh orangtuanya. Namanya PKBM, materi pengajaran yang didapatnya tidak optimal. Hal ini juga dikarenakan tutor bersangkutan kurang memahami pelajaran yang diberikan. Namun,ia tidak patah arang.Ia pun mencari referensi lain dari luar seperti internet misalnya dan giat belajar sendiri.

Selepas di sini, ia berencana akan mengambil kuliah di jurusan Tarbiah, Universitas Negeri Jakarta.Kendati berbagai kendala yang ditemui, Upi,Yogi, dan Nasrullah meyakini program kesetaraan ini dapat mengubah masa depan mereka. (sri noviarni)

Sumber: Seputar Indonesia