Sekolahku (Mau) Tersingkir

30 November 2009 Berita Pendidikan


Inilah sepenggal kisah sebuah sekolah yang nyaris tersingkir, Sekolah Dasar Negeri 060902 atau dikenal dengan SD Mangkubumi. Bertahun-tahun sekolah ini diterpa isu pemindahan dan penutupan. Bahkan, Pemerintah Kota Medan sempat menghentikan penerimaan siswa selama dua tahun, pada tahun ajaran 2005/ 2006 dan 2006/2007.

Sepertinya, isu ini sengaja diembuskan orang. Para guru menangkap hal ini sebagai sebuah kesengajaan. Mereka pun pasrah. Toh, belajar-mengajar tetap berjalan di gedung yang serba kekurangan.

Betapapun kurangnya, sebagian warga mencintai sekolah ini dengan menyekolahkan anaknya. Siswa pun merasa sekolah bagian dari mereka. Sebut saja April (10) siswa kelas IV, Rebi (12) kelas IV, dan Rosa (11) kelas III. Mereka menolak sekolahnya ditutup atau dipindah.

Alasannya sederhana. Sekolah mereka dekat dengan rumah sehingga tidak memerlukan biaya transportasi mahal. Kalau lapar siang, bisa pulang makan di rumah, tutur Rebi.

Sekolah Mangkubumi dekat dengan permukiman warga miskin di timur Sungai Deli. Warga berpenghasilan pas-pasan ini bergantung pada SD Mangkubumi. Selain murah, letaknya hanya beberapa meter dari permukiman warga.

Namun, harapan warga tidak sejalan dengan kondisi sekolah. Kerusakan terjadi di mana-mana, di bagian atap, kursi, pintu, kamar mandi, dan pagar sekolah. Pagar sekolah dirobohkan orang tak dikenal sehingga kini sekolah tak memiliki pagar.

SD Mangkubumi ini letaknya di Jalan Mangkubumi, Medan. Kawasan ini merupakan titik tengah kota, tepatnya di Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimon. Sayangnya, kondisi fisik sekolah tak sebagus letak geografisnya.

Kepala SD Mangkubumi Lasmiah Lubis (54) mengatakan, awalnya, kompleks sekolahnya terdiri dari tiga SD, yaitu SDN 067094, SDN 060897, dan SDN 060902. Sejak 12 Oktober lalu, Pemkot Medan menggabung menjadi satu karena alasan efisiensi. Penggabungan ini tak diikuti perbaikan sarana sekolah. Oleh karena itu, Lasmiah masih bingung dengan maksud pemkot terhadap sekolahnya.

Lasmiah menginginkan kepastian. Jika memang mau ditutup, pemerintah jauh hari menyampaikannya kepada pihak sekolah dengan tegas. Namun, jika ingin dikembangkan, dia menyambut baik. Sudah sering orang mengukur-ukur sekolah, lalu pergi. Kami mengira mau dibangun, tetapi tidak, katanya.

Isu penutupan dan pemindahan membuat sebagian warga menanti kepastian kabar. Isu itu juga juga menunda rencana pembangunan yang sempat berkali-kali mencuat ke permukaan. Pada kondisi yang serba nanggung, jumlah murid sangat minim. Saat ini di SD Mangkubumi terdapat 100 murid dari semua kelas dengan 18 guru. (Andy Riza Hidayat)/Editor: tof

Sumber: Kompas Cetak (kompas.com)