Berita Pendidikan
27 Desember 2011

Sekolah Siap Hapus Tawuran

Para kepala sekolah, guru, dan siswa SMK dan SMA di Jakarta menyatakan siap turut serta menghapus tawuran antarpelajar serta mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif untuk kegiatan belajar. Tawuran pelajar harus ditangani secara komprehensif.

Demikian benang merah yang dapat diambil dari acara Dialog Interaktif tentang Tawuran di DKI Jakarta dengan tema Bersihkan DKI Jakarta dari Tawuran Pelajar yang berlangsung di Aula SMK Negeri 57 Jakarta, Jalan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Sekatan Rabu (21/12).

Acara dialog yang diikuti sekitar 150-an peserta itu dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto dan menghadirkan tiga pembicara, yakni Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait; Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Dri Hastuti; dan wartawan senior Harian Warta Kota, Willy Pramudya.

Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, media massa juga diminta melakukan tugasnya secara profesional agar tidak memunculkan pemberitaan yang menimbulkan stigma. Peran media massa dalam menyajikan informasi berimbang itu sangat penting. Melalui informasi media massa pula tawuran pelajar sebenarnya bisa ditekan. Pihak sekolah pun terus berupaya menekan tawuran pelajar dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan positif, katanya.

Sementara itu, Arist Merdeka Sirait menyatakan, Komnas PA akan meminta kepada pemerintah daerah untuk melibatkan unsur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menjaga ketertiban pada jam-jam rawan tawuran seperti jam keberangkatan dan pulang sekolah. Mereka harus bisa mengamankan kawasan atau jalur-jalur tertentu yang rawan. Ini kita akan coba di ibukota dulu, katanya.

Bahkan, dalam waktu dekat Komnas PA akan melakukan sosialisasi tentang berbagai undang-undang dan konvensi yang terkait dengan perlindungan anak ke sekolah-sekolah sekaligus menyamakan pandangan bahwa kekerasan di sekolah harus dihapus. Pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan secata parsial. Apalagi, hanya dilakukan di satu sekolah sementara sekolah lain tidak, ujarnya.

Komnas PA mencatat pada 2011 terjadi 399 kasus tawuran yang mengakibatkan 82 orang meninggal di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat 128 kasus dibandingkan jumlah kasus tawuran yang terjadi pada 2010, yakni hanya 271 kasus.

Namun para pembicara baik Arist Merdeka Sirait, Dri Hastuti maupun Willy Pramudya sepakat untuk mengingatkan bahwa selain negara harus menjalankan perannya secara benar, garda terdepan untuk mereduksi terjadi tawuran pelajar ialah orangtua. Baru kemudian masyarakat dan sekolah dan para pemangku wewenangnya. Orangtua adalah garda tedepan dalam menanamkan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan sekaligus filter atas berbagai nilai yang datang dari luar, kata Arist.

Menanggapi pemberitaan media massa tentang tawuran, Willy Pramudya mengatakan, hampir semua media mainstream yang sehat secara finansial telah melakukan pemberitaan yang berimbang. Namun diakui bahwa dalam banyak kasus masih ada media yang bekerja secara tidak profesional, melanggar kode etik termasuk belum memahami hak-hak anak dalam pemberitaan.

Sumber: wartakota.co.id

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris