Sekolah Master, Sekolah Gratis Khusus untuk Anak Jalanan

26 Juli 2010 Berita Pendidikan


SUDAH delapan tahun, Nurrochim membina dan mendidik para anak jalanan di sekolah "Master" yang dia dirikan. Master bukan berarti setingkat S2, tapi singkatan dari "Masjid Terminal", karena lokasinya memang di kompleks terminal Depok.

Pagi itu pukul 10.00, suara riuh anak-anak usia sekolah terdengar dari sebuah bangunan yang dibangun sekadarnya: berdinding kayu dan triplek, serta beratap seng. Bangunan itu berdiri di atas lahan 1.500 meter persegi, sekitar 10 meter di belakang Masjid Al Muttaqien, kompleks Terminal Depok.

Di bangunan sekadarnya itulah, harapan para anak jalanan untuk tetap bisa sekolah, diwujudkan. Melalui Yayasan Bina Insan Mandiri (YBIM), didirikanlah sekolah terbuka di tempat itu, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA.

Mereka yang sekolah di sana, kebanyakan adalah para anak jalanan yang sehari-harinya menggelandang sambil bekerja di sekitar terminal Depok. Sudah delapan tahun sekolah gratis itu berdiri. Sang pendiri adalah Nurrochim, pria 39 tahun lulusan pondok pesantren yang kini sedang mengenyam pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Law and Business Manager Jakarta, itu.

Rochim (panggilan akrabnya), lebih suka menyebut sekolah gratis yang dia dirikan itu dengan Master. Yakni singkatan dari masjid-terminal. "Kami mengawali ini semua dari masjid yang ada di terminal Depok," katanya. Diceritakan, pendirian sekolah gratis itu berawal dari keprihatinan Rochim atas nasib para anak jalanan di sekitar terminal Depok yang tak tersentuh pendidikan karena keterbatasan yang ada pada mereka. "Waktu kecil, saya sering bermain-main di terminal, stasiun dan pasar. Asal main saja, ikut-ikut teman nyari uang," kisahnya. Dari tempat itulah, Rochim banyak bergaul dengan para anak jalanan.

Tapi nasib Rochim lebih beruntung. Dia bisa mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren, sedangkan para anak jalanan itu tidak. "Padahal, banyak dari anak jalanan yang saya kenal saat itu sangat ingin sekolah. Karena itu, saya tergerak untuk mendirikan sekolah Master ini," katanya.

Pada 28 Juni 2002, Rochim pun mencoba mewujudkan keinginannya. Bersama beberapa temannya, dia mendirikan sekolah gratis. Saat itu, ada 300 anak jalanan yang ikut. Karena belum memiliki gedung sekolah, Rochim diberi ijin menggunakan Masjid Al Muttaqien di kompleks Terminal Depok untuk kegiatan belajar mengajar. "Karena tempatnya di masjid terminal, sekolah ini kami singkat master," katanya. Untuk tahap awal, kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan tiga kali seminggu.

Empat tahun kemudian, jumlah murid di sekolah master terus bertambah. Dio satu sisi, perjuangan serta ketelatenan Rochim dan teman-temannya, membuat para warga yang tinggal di sekitar terminal berempati. Rochim kemudian mendapat wakaf tanah dari sejumlah warga yang tinggal di belakang masjid. Wakaf tanah itu lah yang kelak dijadikan Rochim untuk mendirikan bangunan sekolah master-nya. "Untuk tambahan kami terpaksa membelinya sedikit biar muat untuk semua siswa," terang suami dari Elvira Wati, 35, itu.

Sedikit demi sedikit, Rochim dan teman-temannya mulai membangun sekolah di atas tanah wakaf tersebut. Karena dana yang sangat terbatas, Rochim membangun sekolah itu semampunya. Jadinya, ya bangunan semi permanen tadi.

Kini, di atas lahan 1.500 meter persegi itu, sudah berdiri 10 kelas. Rata-rata setiap kelas berukuran 5 x 5 meter. Kelas-kelas itu tak ada kursi, juga tak ada bangku. Jadi, proses belajar-mengajar dilakukan secara lesehan. Bahkan, tak ada pintunya.

Juga ada tiga ruangan untuk guru. Masing-masing berukuran sekitar 3 x 4 meter, diperuntukkan untuk guru SD, SMP dan SMA. Di ruangan guru ini, juga tak ada inventaris apa pun, kecuali tumpukan kertas.

Meski dibangun sekadarnya, Rochim juga membuat beberapa ruangan untuk kegiatan ekstrakulikuler. Misalnya, ada ruangan untuk belajar sablon dan satu ruangan lainnya untuk belajar melukis. "Supaya mereka punya keterampilan," kata Rochim. Dia juga membangun satu ruangan di bawah tanah, untuk studio musik, meski dengan peralatan musik yang sangat terbatas.

Terbatasnya ruangan kelas, membuat pihak sekolah membagi waktu belajar. Siswa TK, SD, dan SMP diberikan kesempatan untuk belajar pada pagi mulai pukul 07.00 hingga 12.00. Sedangkan siangnya, pukul 12.30 hingga 17.30 untuk para siswa SMA.

Saat malam tiba, Rochim menceritakan, ruang-ruang kelas itu kerap berubah fungsi menjadi tempat tidur. Banyak di antara siswanya yang memilih bermalam di ruang-ruang kelas. "Ada asrama sih, tapi kalau sudah penuh mereka terpaksa tidur di kelas," tandasnya. Sebab, asrama yang disiapkan hanya berukuran sekitar 6 x 6 meter.

Rochim mengatakan, berbagai kendala diakui memang kerap ditemui selama mengelola sekolah master. Bagi dia, mudah untuk mengajak anak-anak jalanan ke sekolah. Justru yang sulit itu, katanya, menyesuaikan jam belajar siswa dengan waktu kerja mereka. "Kalau pagi masih banyak yang turun ke jalan," ujarnya.

Tidak cukup itu, pria kelahiran Tegal ini mengaku kesulitan mengelola biaya operasional sekolah. Apalagi, selama delapan tahun master berdiri, tak ada sepeser pun bantuan dari pemerintah. Untuk biaya operasional sekolah, Rochim mengandalkan dari para donatur.

Hingga kini, sekolah master itu menampung sedikitnya 700 orang. Dengan jumlah siswa sebanyak itu, kata Rochim, setiap bulan sedikitnya menghabiskan Rp 70 juta. "Donatur tetap kami hanya mampu memenuhi 10 persennya saja," terang Rochim.

Sisanya, dia berupaya untuk memenuhinya dengan meningkatkan program yang digalakkan oleh yayasan. Misalnya dengan meningkatkan pengelolaan koperasi dan pesanan sablon. "Ada saja uangnya. Di putar-putar asal halal," ujarnya.

Sekretaris pengelola sekolah Toni Zulhendra menambahkan, gali lubang tutup lubang sudah sangat biasa dalam mengelola keuangan sekolah. Terutama saat awal bulan. Dimana pihak sekolah wajib membayar tagihan listrik dan air. "Memang rezeki itu ada saja, tapi kalau lagi seret ya seret sekali," tegas.

Toni menceritakan, dua tahun silam tagihan listrik sempat nunggak hingga tujuh bulan. "Kami sudah diancam akan diputus jaringan," curhatnya. Pihak yayasan mengajukan permohonan perpanjangan waktu pelunasan. "Alhamdulilah lunas, enggak jadi diputus," tambahnya.

Tiap bulan pula, kata Toni, yayasan harus belanja membeli spidol dan alat tulis lain untuk mendukung proses pembelajaran. "Kalau tidak ada dana ya tidak belanja dulu, ditahan sampai nanti ada bantuan lagi," ucap pria asal Padang, Sumatera Barat itu.

Beruntung, semua guru yang mengajar di sekolah master itu tak ada yang dibayar. Hingga saat ini, sekolah tersebut punya 41 guru tetap. Kebanyakan (sekitar 70 persen) adalah lulusan SMA. Sedangkan, guru bantu jumlahnya lebih banyak, hingga mencapai 200 orang. Tapi, mereka ini mengajar pada saat-saat tertentu, tergantung kesediaannya.

Toni menegaskan, sistem pendidikan yang berlaku di Sekolah Master adalah Standar Pendidikan Nasional. Sekolah terbuka mereka menginduk pada SMPN 10 Sawangan Depok, dan SMAN 5 Sawangan Depok. Tingkat SD ikut dalam program kelompok belajar paket A tanpa sekolah induk. "Kami juga buka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) saat malam," terangnya.

Kondisi sekolah yang serba apa adanya bukan halangan untuk bersaing menuai prestasi. Dua siswanya tercatat pernah menorehkan penghargaan tingkat nasional. Dua alumnus sekolah tersebut pernah berhasil meraih emas pada Olimpiade Matematika dan IPA tingkat nasional. Raka Novian,17, mendapatkan medali emas dan Maya Ratnawati,16, meraih medali perak. (kum)

Sumber: jpnn.com