Berita Pendidikan
23 Desember 2009

Sekolah Inklusi Kebingungan

Penerapan sekolah inklusi memerlukan persiapan sumber daya manusia yang memadai. Saat ini, umumnya guru-guru di sekolah inklusi masih kebingungan dalam memberikan pembelajaran pada siswa berkebutuhan khusus.

Sekolah memang semestinya menerima anak tanpa pandang bulu. Akan tetapi, ketika sekolah ditetapkan inklusi, kadang muncul masalah baru karena ketidakmampuan guru menangani anak berkebutuhan khusus, kata Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Galuh Handayani, Sri Sedyaningrum, saat peresmian Assessment Center for Children with Special Needs Education, kemarin.

Ketidaksiapan sumber daya manusia ini disebabkan kebijakan yang ditentukan dari atas (top down). Akibat lainnya, sarana prasarana dan fasilitas belum siap. Sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi juga tidak mampu melayani ketika anak berkebutuhan khusus datang.

Kendala itu diakui oleh Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Ekodjatmiko Sukarso.

Selain itu, pola pikir masyarakat, guru, dan kepala sekolah masih mendiskriminasi anak berkebutuhan khusus. Karenanya, mungkin masih ada anak berkebutuhan khusus yang ditolak di sekolah tertentu.

Dia mencontohkan, di sekitar lokalisasi di Kelurahan Putat Jaya Surabaya, dari sekolah-sekolah di 11 RW, hanya sekolah di RW 11 yang setuju menerima siswa berkebutuhan khusus.

Setelah menjadi sekolah inklusi, pemerintah perlu memfasilitasi pelatihan guru, pelatihan manajemen sekolah inklusi untuk kepala sekolah, dan penyediaan sarana prasarana yang bisa diakses seorang tuna daksa.

Kewenangan pelatihan guru, kata Eko, tidak ada pada pihaknya. Namun, kewenangan ini terdapat pada Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Karenanya, dilakukan terobosan dengan memperkuat jaringan ke lembaga swadaya masyarakat dan yayasan. Selain itu, pendidikan inklusi dilakukan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan keterampilan.

Tidak kalah pentingnya pusat identifikasi kapasitas anak berkebutuhan khusus (assessment center for children with special needs). Wadah ini bisa memetakan kebutuhan khusus anak baik dari sisi akademis dan keterampilan khusus.

Sedyaningrum mengimbuhkan, assessment center ini didukung oleh orthopedagog, pedagog, psikolog, dokter, terapis psikomotor, dan ahli nutrisi, serta konsultan ahli lain. Dari para ahli ini, bisa diketahui potensi anak serta kelemahannya. Dari pemetaan potensi dan kelemahan anak, tindakan intervensi, kurikulum dan metode pembelajaran bisa disusun sesuai kebutuhan dan potensi anak.

Pusat identifikasi kapasitas anak berkebutuhan khusus ini, kata Eko, sekaligus menjadi solusi untuk guru-guru yang harus memberi pembelajaran baik kepada anak-anak reguler dan anak berkebutuhan khusus.

Saat ini, pusat identifikasi kapasitas anak berkebutuhan khusus (Assessment Center for Children with Special Needs) baru didirikan di Surabaya, di Jalan Manyar Sambongan. Wadah ini bersebelahan dengan Sekolah Galuh Handayani yang sebelumnya mengkhususkan diri untuk anak berkebutuhan khusus dan mulai 2003 menjadi sekolah inklusi.

sumber: dutamasyarakat.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris