Sekolah Hancur Ditanggung Pusat

7 September 2009 Berita Pendidikan


Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, biaya pembangunan kembali sekolah yang hancur atau rusak berat akibat gempa Tasikmalaya akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat. Sedangkan sekolah dengan tingkat kerusakan sedang dan ringan akan ditangani oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat.
Hal tersebut diungkapkan Mendiknas ketika meninjau sekolah yang hancur di Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (6/9). Mendiknas mengunjungi SDN 4 Salawu, SMPN 1 Cigalontang, dan SMAN Cigalontang. Ikut mendampingi Mendiknas Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wachyudin Zarkasyi.

Mendiknas mengatakan, penanganan kerusakan sekolah, sesungguhnya menjadi tanggung jawab kepala daerah. Pemerintah pusat dan provinsi sifatnya hanya membantu. Akan tetapi , bantuan yang akan diberikan pemerintah pusat tentunya lebih besar.

Depdiknas, kata Mendiknas, akan bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengevaluasi konstruksi bangunan sekolah. Apakah sekolah tersebut harus direlokasi atau tidak.

Menurut Wakhyudin, sampai saat ini tercatat ada 800 sekolah di Jawa Barat yang dilaporkan rusak, dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, hingga hancur, karena gempa. Angka ini kemungkinan akan berubah karena data yang dilaporkan pemerintah daerah juga terus diperbarui.

Selain menanggung rehabilitasi sekolah yang hancur Depdiknas juga, kata Mendiknas, memberikan bantuan tanggap darurat Rp 2 miliar untuk masing-masing daerah yang terkena gempa. Depdiknas juga memberikan bantuan seragam dan alat tulis ke daerah bencana itu. "Bantuannya tidak bohong, itu lihat truk yang membawa bantuan," kata Mendiknas sambil menunjuk truk dimaksud.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Idi S Hidayat, menjelaskan, jumlah ruang kelas yang hancur di Taikmalaya mencapai 489 unit . Sedangkan ruang kelas yang rusak berat sebanyak 419 unit, rusak sedang 57 unit dan rusak ringan 382 unit. Rehabilitasi kembali ruang kelas tersebut diperkirakan mencapai Rp 65 miliar.

Terkait nasib ribuan siswa yang ruang kelasnya hancur, Mendiknas menegaskan agar proses belajar tetap berjalan. Sekolah diberi keleluasaan untuk mendirikan tenda bagi anak sekolah atau meminjam ruang kelas sekolah lain yang tidak hancur.

Kepala SMPN 1 Cigalontang Supriyatno, menjelaskan, agar proses belajar 503 siswa di SMPN 1 Cigalontag terus berjalan pihaknya kemungkinan akan meminjam bangunan sekolah lain untuk belajar atau menetapkan jadwal sekolah bergiliran pagi-siang. "Kalau ternyata masih kurang juga ya terpaksa siswa belajar di tenda. Karena itu, kami sangat membutuhkan tenda untuk belajar siswa," kata Supriyatno.

Laporan wartawan KOMPAS Adithya Ramadhan

Sumber: Kompas.Com