Sekolah Gratis di Gorontalo Kurang Dana

23 Maret 2011 Berita Pendidikan


GORONTALO - Sekolah gratis Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) atau Marifah di Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Gorontalo, kesulitan ruangan kelas baru. Sekolah yang didirikan tahun 2009 ini baru memiliki dua ruang kelas. Pembiayaan sekolah masih sebatas dari donatur.

MI Marifah, yang didirikan Yayasan Pendidikan Islam Marifah, hanya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga miskin dan tidak mampu. Pihak sekolah membebaskan wali murid dari segala biaya. Bahkan, seragam, buku pelajaran, serta alat tulis siswa diberikan secara cuma-cuma.

Karena baru dibuka sejak dua tahun lalu, sekolah yang memiliki dua ruang kelas ini baru dihuni murid kelas satu dan dua. Padahal, pada bulan Juni-Juli nanti adalah bulan kenaikan kelas dan memasuki tahun ajaran baru. Sementara dana untuk pembangunan ruang kelas baru belum ada.

"Terus terang kami saat ini tengah kesulitan membangun ruang kelas baru untuk murid kelas tiga nanti. Padahal, beberapa bulan lagi akan memasuki tahun ajaran baru. Kami juga belum menerima bantuan sedikit pun dari pemerintah atau Kementerian Agama," ucap Ketua Yayasan Pendidikan Islam Marifah Ramli Djafar, Selasa (22/3/2011), saat ditemui di sekolah.

Kemungkinan besar, imbuh Ramli, siswa kelas tiga nanti akan menghuni ruang untuk para guru dan tata usaha. Sementara ruang untuk guru dan tata usaha akan dipindah ke salah satu ruangan yang ada di masjid di depan sekolah. Walaupun sudah mendaftarkan sekolah ke Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional, sekolah belum menerima bantuan apa pun.

"Setiap bulan, biaya operasional rutin sekolah ini hampir mencapai Rp 6 juta. Jumlah tersebut untuk biaya empat guru, satu kepala sekolah, dan satu petugas tata usaha. Semua dana itu didapat dari donatur," kata Ramli.

Salah satu guru di sekolah tersebut, Herlina Jusuf, menambahkan, sebagian besar murid yang masuk ke kelas satu masih belum b isa membaca dan menulis. Kondisi tersebut membuat para guru bekerja lebih keras. Apalagi, hingga mereka naik ke kelas dua pun belum semuanya lancar membaca dan menulis.

"Kondisi ini bisa dimaklumi sebab sebelum masuk ke sekolah ini, mereka tidak mengecap pendidikan di tingkat taman kanak-kanak. Sebagian besar orang tua para murid disibukkan untuk mencari nafkah karena mereka berasal dari golongan kurang mampu," ujar Herlina.

Selama dua kali penerimaan siswa baru, sekolah ini hanya menerima 15 murid saja. Pembatasan ini disesuaikan dengan kemampuan pendanaan serta ruang kelas yang terbatas. Padahal, setiap kali dibuka pendaftaran baru, jumlah calon siswa mencapai sekitar 25 anak.

Sumber: kompas.com