Sekolah Disegel, 340 Siswa Tidak Belajar

9 Agustus 2010 Berita Pendidikan


Bulukumba - Sekitar 340 siswa SMA PGRI Bulukumba dan guru tidak bisa mengikuti proses belajar-mengajar, Jumat (6/8) pagi, karena sekolah mereka disegel warga.
Warga menyegel sekolah itu karena mengklaim sebagai pemilik lahan di sekolah itu. "Kami terpaksa menyegel, karena tanah ini masih milik orangtua saya Dahlan M Gau," kata Hidayat, salah seorang anak Dahlan, di lokasi sekolah, kemarin.
Ia menjelaskan, orangtuanya memberikan tanahnya untuk ditempati gedung sekolah dengan perjanjian, setiap bulan mendapat royalti dari pengelola sekolah dan keluarganya diberdayakan di sekolah sebagai tenaga pengajar atau staf.
Perjanjian memakai tanah seluas satu hektare itu berlangsung tahun 1980 lalu antara Dahlan dan yayasan SMA PGRI Bulukumba.

Hidayat menjelaskan, hingga tahun 2000, semuanya berjalan lancar. Namun belakangan, setelah kepala sekolah berganti dan kini ditempati A Batari, dana untuk keluarga Dahlan terhenti. Begitu juga keluarga Dahlan, yang sebelumnya bekerja di sekolah itu.

Karenanya, Hidayat memilih menyegel sekolah itu. Penyegelan berlangsung sekitar pukul 07.00 wita di pintu gerbang dan beberapa pintu ruang kelas.

Ke DPRD

Karena tidak bisa masuk, beberapa guru ke DPRD menyampaikan hal itu untuk difasilitasi bertemu pemilik lahan.
"Kami minta warga untuk membuka segel itu, karena merugikan siswa. Silakan melakukan upaya hukum tanpa menghalangi proses belajar mengajar," kata A Batari, Kepala SMA PGRI Bulukumba.

Batari juga membantah tanah itu milik Dahlan, sesuai bukti surat kepemilikan yayasan.

"Tanah ini bukan milik Dahlan. Dia memang pernah menjabat kepala sekolah lalu meminjam uang kredit di bank untuk membangun gedung sekolah. Tetapi bukan uangngnya, melainkan uang para siswa sendiri," kata A Batari.

Dijelaskan, mengenai pemberhentian keluarga Dahlan sebagai tenaga pengajar, karena malas mengajar dan jarang datang. Siswa kemudian meminta mereka diberhentikan.

"Jadi bukan saya yang berhentikan, tetapi permintaan siswa karena merasa dirugikan," tambahnya.
Menyikapi masalah ini, Sekretaris Komisi A DPRD Bulukumba, Hamzah Pangky, mengatakan, dewan akan memfasilitasi pertemuan kedua pihak untuk mencari solusi.

Sumber: tribun-timur.com