Sekolah Diduduki, Sembilan Guru Dipecat

15 Januari 2010 Berita Pendidikan


SURABAYA-Konflik internal di Yayasan Tamirul Masjid Kemayoran Surabaya (YTMKS) yang menaungi Lembaga Pendidikan Tamiriyah kembali memanas. Jumat (15/1) pagi puluhan orang tak dikenal yang diduga dikoordinir pengurus yayasan baru kembali menduduki sekolah yang terletak di Jl. Indrapura tersebut.

Mereka berkumpul di depan ruang guru, ruang yayasan serta ruang UKS. Puluhan guru SMA yang hendak melakukan belajar-mengajar jadi terhambat. Akibatnya sempat terjadi adu mulut antara guru dengan orang-orang tersebut. Seorang guru perempuan bernama Warbibit bahkan sempat pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit PHC Surabaya.

Selain dihalang-halangi, beberapa guru SMA Tamiriyah juga mendapat surat pemberhentian (PHK) yang ditandatangani Ketua Yayasan baru, Arif Hanafi.

Kita kaget karena ketika hendak masuk ke sekolah, dihadang sekelompok orang tak dikenal yang mengaku jamaah masjid Kemayoran. Lalu beberapa orang dari kami dipaksa menerima surat pemecatan yang ditandatangani Ketua Yayasan baru Pak Arif Hanafi, ujar Eko Santoso, salah seorang guru SMA.

Surat tersebut berisi perintah pemutusan hubungan kerja pada setidaknya sembilan orang guru. Lima guru tidak tetap (GTT) dan empat orang guru DPK (guru negeri yang diperbantukan di sekolah swasta). Mereka yang mendapat surat tersebut adalah Eko Santoso, Khoirul Umam, Mila, Tutik dan Sucipto. Sedangkan guru DPK yang menerima surat pemecatan adalah Ngesti, Lilis, Atik dan Ratih. Selain dipecat, mereka juga dilarang memasuki lingkungan Taman Pendidikan Tamiriyah.

Sekretaris Umum YTMKS, M Yasin Ruslan, ketika ditemui mengatakan pemberian surat PHK tersebut berdasarkan rapat yayasan yang terdiri dari pembina, pengurus dan pengawas yayasan.

Para guru yang dipecat tersebut dianggap sudah melakukan tindakan makar dengan memprovokasi siswa untuk berdemo pada 2 dan 4 Januari silam. Keputusan ini diakui Yasin sudah dikonsultasikan dengan pengacara ahli ketenagakerjaan. Keluarnya surat PHK ini sudah melalui rapat organ yayasan dan sudah dikonsultasikan dengan ahli hukum perburuhan, kata Yasin.

Sementara mengenai orang-orang tak dikenal yang diduga preman, dikatakan Yasin adalah jamaah Masjid Kemayoran Surabaya. Mereka bukan preman, mereka murni jamaah Masjid Kemayoran, tegasnya. Para jamaah ini, diakui Yasin ikut tergerak mengurusi lembaga pendidikan Tamiriyah karena prihatin dengan kondisi yang tak kunjung kondusif. Diakui Yasin, tiap bulannya, biaya operasional masjid yang mencapai Rp 72 juta sebagian besar disumbang dari lembaga pendidikan Tamiriyah. Sejak terjadinya konflik ini, siswa SMA Tamiriyah tak lagi membayar uang sekolah mereka ke kantor Tata Usaha (TU) yang diduduki pengurus yayasan baru. Para murid membayar sendiri uang sekolah mereka ke pengurus yayasan lama yang dikoordinir Kepala Sekolah lama, Munif Munsyarif.

Karena pemasukan untuk operasional masjid terhambat, wajar kalau jamaah ikut bertindak, lanjut Yasin.

Dari pengamatan Surabaya Post, selain mereka yang mengaku jamaah masjid, ada juga orang-orang yang berpakaian seragam banser NU serta GP Ansor yang berkumpul di sekitaran masjid yang terletak di kompleks sekolah Tamiriyah. Sementara puluhan aparat kepolisian disiagakan di depan gerbang sekolah. Sementara itu aktivitas belajar mengajar di sekolah itu terbengkalai. Murid-murid yang seharusnya mengikuti ujian remidi, akhirnya hanya duduk-duduk di depan kelas. Siswa memilih menggelar doa bersama di lapangan sekolah dan berdoa agar konflik segera berakhir.den Sumber: surabayapost.co.id