Sedih! Dikti Kembali Menutup Beberapa Perguruan Tinggi Swasta

5 Oktober 2015 Berita Pendidikan


Lagi-lagi ada kabar kurang menggembirakan dari dunia pendidikan. Pasalnya Kemenristek Dikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) telah resmi menonaktifkan beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di provinsi Kepulauan Riau dan Batam.

PTS yang dinonaktifkan tersebut antara lain:

· Akademi Bahasa Asing Tanjungpinang (ABTT)

· Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Kabupaten Karimun

· Sekolah Tinggi Teknik Bentara Persada Batam

· Akadem Akuntansi Permata Harapan Batam

· Akademi Manajemen Informatika dan Komputer GICI Batam

· Akademi Bahasa Asing Permata Harapan Batam.


Kenapa PTS tersebut dinonaktifkan? Menurut penuturan Genefri selaku Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X, setelah dilakukan investigasi, PTS tersebut tidak memenuhi standard sistem perkuliahan dalam sebuah perguruan tinggi. Standard ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan terkait pendirian sebuah perguruan tinggi.

Selain itu terdapat permasalahan lain diantaranya kurangnya jumlah dosen. Berdasarkan peraturan seharusnya jumlah dosen minimal 6 orang untuk setiap program studi (prodi).Namun ke PTS diatas hanya memiliki dua dosen untuk setiap prodi.

Petimbangan lain dari penonaktifan PTS adalah model pembelajaran. Hal ini terjadi pada Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Gici. PTS ini memang menerapkan model yang mendekatkan teori perkuliahan kewirausahaan. Sayangnya model pembelajaran seperti ini tidak dapat ditermia oleh Kemenristek Dikti.

Tetapi kabar baiknya, Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Gici bersedia untuk berbenah diri. Gici telah mempersiapkan berkas-berkas perbaikan dan rencananya akan diantar ke Kementrian secepatnya. Status non-aktif untuk Gici hanya bersifat sementara. Jika semua berkas-berkas yang diperlukan Kemenristek sudah diterima maka statusnya akan kembali aktif.

Untuk PTS lain yang tidak mau memperbaiki diri maka status non-aktif akan bersifat permanen. Bagi PTS yang lain harap lebih memperhatikan peraturan yang telah ditentukan oleh kementrian supaya hal yang tidak mengenakkan seperti ini tidak terjadi lagi.

Oleh: Muhamad Erzal
(Dikutip dari berbagai sumber)