Sarasehan Penguatan Pendidikan Karakter, Upaya Preventif Cegah Radikalisme

11 Juni 2018 Berita Pendidikan


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (Direktorat PSMA) menyelenggarakan Sarasehan Penguatan Pendidikan Karakter di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, dari tanggal 30 Mei hingga 1 Juni 2018. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah menyosialisasikan kebijakan dan strategi pencegahan penyebaran radikalisme. Kegiatan sarasehan nasional ini dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Kamis (31/5/2018). Dalam pembukaan tersebut, Mendikbud didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad.

Mendikbud menyambut baik diselenggarakannya kegiatan sarasehan ini mengingat tantangan permasalahan yang semakin berat yang mengancam tumbuh kembangnya jati diri anak-anak bangsa saat ini. Dua bahaya besar yang mengancam generasi muda Indonesia adalah radikalisme dan narkoba. Ancaman itu datang dari berbagai lini, terutama dua ancaman besar bagi generasi muda yaitu narkoba dan radikalisme.

Oleh karena itu semua pihak perlu terus meningkatkan kewaspadaan dan bahu membahu melindungi generasi muda dari semua ancaman-ancaman tersebut dengan memperkuat karakter moral dan karakter kebangsaan. Muhadjir menambahkan bahwa penguatan pendidikan karakter merupakan prioritas pemerintah Presiden Joko Widodo. Dasar hukum penguatan pendidikan karakter ini sudah kuat, yaitu Perpres Nomor 18 Tahun 2018, jadi kita harus bahu membahu menguatkan karakter anak-anak bangsa.

Mendikbud menambahkan bahwa pemerintah perlu membuat langkah-langkah terukur dan sistemik dalam menguatkan karakter kebangsaan siswa dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada. Langkah-langkah yang diambil pemerintah perlu didukung seluruh elemen bangsa. Oleh karena itu Mendikbud mengajak seluruh elemen bangsa turut mendukung program penguatan pendidikan karakter.

Dirjen Dikdasmen mengatakan tujuan sarasehan nasional ini adalah:
a. memperkuat sikap cinta damai dan cinta tanah air dari siswa SMA sehingga mereka mampu menghindari diri dari pengaruh negatif yang mengancam;
b. menyosialisasikan kebijakan dan strategi pencegahan penyebaran radikalisme;
c. memperoleh masukan perihal cara-cara terbaik dalam melindungi peserta didik dan memperkuat ketahanan sekolah menghadapi bahaya penyebaran radikalisme;
d. Mengkoordinasikan dan mensinergikan upaya pencegahan penyebaran radikalisme di lingkungan pendidikan.

Hamid menambahkan jumlah peserta kegiatan ini sebanyak 174 orang. Peserta sarasehan terdiri dari unsur dinas pendidikan provinsi 6 orang, kepala SMA 55 orang, pembina OSIS 44 orang, pembina Rohis 11 orang, ketua OSIS 42 siswa, ketua Rohis 11 siswa, dan komite sekolah 5 orang. Untuk kegiatan kali ini peserta kami undang dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan DKI Jakarta. Pada tahun ini kami mengambil fokus di provinsi-provinsi tersebut namun pada tahun-tahun berikutnya akan kita perluas dari daerah-daerah lainnya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari kemdikbud.go.id)