Sanksi Berat Menanti, bagi yang Berani Jual Buku Kurikulum 2013

21 Agustus 2014 Berita Pendidikan


Maraknya modus penjualan buku kurikulum masih saja menjadi polemik dalam penyelenggaraan Kurikulum 2013. Mendikbud M Nuh mengatakan, segera menelusuri peredaran buku kurikulum baru di toko-toko di Surabaya. Jika ternyata buku itu diedarkan oleh percetakan penyedia buku kurikulum baru, sanksi berat siap dijatuhkan. Pasalnya telah terjadi pelanggaran komitmen. Nuh menuturkan sudah lama menduga bakal ada pihak-pihak yang memanfaatkan harga buku kurikulum baru yang murah. "Motif-motif ekonomi sangat dimungkinkan. Terkait dengan keterlambatan distribusi dan harga buku yang resminya hanya Rp 9.000-an," kata dia kemarin.

Nuh sangat menyayangkan, jika benar percetakan yang menang tender menyalurkan buku ke toko-toko komersil, "Kita siapkan sanksi berat. Karena melanggar komitmen awal, tidak ada perjanjian boleh dijual komersial" jelasnya. Tugas dari percetakan itu adalah, mencetak buku dan mendistribusikan ke sekolah-sekolah pemesan. Bukan mengedarkannya ke toko-toko komersial. Meskipun buku-buku itu tidak digandakan dengan uang negara, tetap tidak boleh dijual umum.

Menurut Nuh selama ini tidak semua masyarakat menerima program implementasi Kurikulum 2013. Sehingga wajar ketika ditemukan banyak hambatan dalam pelaksanaannya. Mulai dari keterlambatan pemesanan buku oleh sekolah, keterlambatan pengiriman buku ke sekolah, hingga peredaran buku-buku kurikulum baru di toko komersil.

Pembelian buku oleh sekolah melalui dana BOS dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran, tentu pukulan bagi penerbit buku-buku sekolah. Mereka sekarang bahkan sudah mulai menyiasati dengan menerbitkan buku pendamping kurikulum baru. Meskipun ada potensi gangguan dari pihak-pihak yang selama ini mengeruk untung dari bisnis buku pelajaran, Kemendikbud tidak akan mundur dalam melakukan tugasnya.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari jpnn.com)