Rizki, Putus Sekolah Karena Miskin dan Epilepsi

1 September 2009 Berita Pendidikan


Di bulan Ramadan ini masih banyak orang yang butuh perhatian, salah satunya Rizki Darmawan. Putra semata wayang pasangan Askuri dan Iis merupakan salah satu anak yang kurang beruntung. Anak berumur sembilan tahun ini terpaksa putus sekolah sejak kelas I SD karena ketiadaan biaya dan karena penyakit epilepsi yang dideritanya.
Ketika Lampung Post berkunjung ke rumah kontrakannya, Senin (30-8), yang berada di Jalan Adisucipto, Kebonjeruk, Tanjungkarang Timur, kondisinya mengenaskan.

Di rumah tersebut hanya ada dua ruangan yakni kamar tidur dan ruang tamu sekaligus berfungsi sebagai dapur. Sedang besarnya uang sewa yang harus dibayar Rp10 ribu/bulan. Rumah tersebut ditempati oleh kedua orang tua Rizki dan satu keponakan Rizki. "Rizki sudah sakit semenjak berumur satu tahun, berawal dari sakit panas. Awalnya Rizki jatuh dari pohon," ujar Iis yang saat ditemui baru pulang dari bekerja.

Di bulan puasa seperti ini, kedua orang tua Rizki tetap tekun menjalani ibadah. Iis bekerja sebagai tukang setrika pakaian di perumahan dan Askuri menjadi penarik becak.

"Namun, semenjak Rizki dirawat inap dua minggu lalu, becak bapak digadai buat bayar obat Rp200 ribu. Mau bagaimana lagi, saya mau Rizki sembuh," ujar Iis sambil menjaga Rizki yang tertidur pulas.

Iis menuturkan mereka berbuka dengan makanan seadanya. Terkadang selagi tidak ada uang, mereka makan mi instan.

Dia mengaku mendapat gaji Rp350 ribu/bulan. Dan, semenjak becak Askuri digadaikan, pendapatannya maksimal Rp20 ribu/hari. "Begini Mas kalau jadi saya, kerja pagi-pagi pulang malam. Selain kuli setrika, saya jualan kue keliling. Alhamdulillah bulan puasa saya dapat uang tambahan karena dagangan keliling saya ramai dibeli orang yang akan berbuka puasa. Tapi uang itu harus dipotong buat bayar setoran kue kepada bos."

Sementara itu Askuri mengatakan semenjak becaknya digadaikan, dia kerjanya selepas tarawih. Seharian dia menjaga Rizki yang sering kumat. Rizki mendapatkan perhatian ekstra dari kedua orang tuanya. "Anak saya putus sekolah dari bangku kelas I SD. Kami khawatir dia tiba-tiba kumat, selain itu kami tidak punya uang," kata dia.

Meski memiliki keterbatasan karena penyakitnya, Rizki sangat menyukai catur dan gitar. Namun, karena minimnya asupan gizi dan penyakit yang terus menggerogoti, badan Rizki kecil dibanding dengan teman sebayanya. Terkadang Rizki berceloteh ke setiap orang, termasuk dengan Lampost, ia meminta digendong. Bagi kedua orang tuanya, Rizki adalah permata yang harus selalu dijaga dan disayang.

Meski sering mendapat kendala saat mengobati Rizki ke rumah sakit karena ketiadaan biaya, mereka bertekad menyembuhkan anak tersebut. Namun, baru-baru ini orang tua Rizki mengaku beruntung karena akan diberi Jamkesda.

"Saya sebagai orang tuanya, bertekad sembuhin Rizki. Walau saya tidak punya uang, tapi saya banting tulang demi menapatkan uang untuk menebus obat Rizki. Bulan puasa ini saya kerja mati-matian jualan kue sampai malam hari supaya bisa nabung. Maklum, Mas setiap sebulan sekali Rizki harus nebus obat seharga Rp100 ribu."

Sementara itu, selepas tarawih, Askuri menarik becak dan biasanya mangkal di depan Plaza Bandar Lampung atau Ramayana. Ia biasanya mengantar pulang karyawan supermarket tersebut. Jika sedang sepi, dia hanya mampu mengumpulkan uang Rp15 ribu. Uang itu hanya cukup untuk makan sahur, tetapi terkadang mereka tidak sahur karena tidak ada makanan.

Rizki dan kedua orang tuanya berharap di bulan puasa ini mereka mendapatkan perhatian dari orang-orang yang peduli. Kepada pemerintah dia meminta agar peduli terhadap kesejahteraaan yang mereka butuhkan. Rizki menginginkan dia bisa berobat gratis di rumah sakit dan bisa sembuh total agar bisa hidup normal seperti kawan-kawan sebayanya. n SRI WAHYUNI/MEMET/S-2
Sumber: Lampungpost.Com