Rendah, Minat Belajar Keteknikan

13 Januari 2012 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com Kebutuhan tenaga dan ahli di bidang keteknikan diperkirakan meningkat dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi pada enam koridor yang ditetapkan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Namun, pemenuhan kebutuhan tenaga teknik ini bakal menghadapi kendala akibat minimnya sarjana teknik dan minat belajar teknik yang rendah.

Padahal, kebutuhan tenaga teknik tingkat menengah dan sarjana tersebut diperlukan untuk mendukung permintaan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengerjakan kegiatan konektivitas yang dirancang dalam MP3EI. Kebutuhan tenaga teknik itu antara lain untuk pembangunan jalan, pelabuhan, power dan energi, rel kereta, utilitas air, dan telematika.

Persoalan SDM teknik yang minim itu terungkap dalam rapat koordinasi tim kerja SDM dan ilmu pengetahuan MP3EI di Jakarta, Kamis (12/1/2012). Pertemuan dipimpin Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim. Hadir antara lain Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Djoko Santoso, perwakilan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Bappenas, dan Dewan Pendidikan Tinggi.

Musliar mengatakan, saat ini sedang dipetakan kebutuhan SDM untuk mendukung MP3EI. Namun, secara spesifik belum ditetapkan perkiraan jumlah kebutuhan tenaga teknik dan SDM lainnya pada enam wilayah koridor MP3EI.

Menurut Musliar, Kemdikbud sudah punya rencana untuk memasok kebutuhan SDM, terutama di bidang teknik. Pada tahun ini mulai dikembangkan 20 community college sebagai proyek percontohan dari rencana 500 community college. Selain itu, institut teknologi milik pemerintah bakal ditambah di Kalimanatan (dibidani Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Sumatera (dibidani Institut Teknologi Bandung), serta politeknik.

"Kita mendorong SMK hingga perguruan tinggi di enam koridor itu untuk bisa menyiapkan SDM yang dibutuhkan. Tiap koridor, kan, punya fokus pertumbuhan dan SDM mesti disiapkan," kata Musliar.

Jumlah sarjana teknik di Indonesia berkisar 162 orang per satu juta penduduk. Jumlah ini kalah dibandingkan dengan Vietnam yang mencapai 280 orang. Untuk itu, minat siswa pada keteknikan perlu dikembangkan sejak dini.

Djoko Santoso mengatakan, untuk keteknikan, sebenarnya jumlah program studi cukup banyak, mencapai 70 persen. Namun, jumlah mahasiswa di bidang teknik berkisar 11 persen.

Kebutuhan tenaga teknik dan SDM lainnya akan beragam. Sebab, tiap koridor memilki fokus pertumbuhan yang beragam.

Koridor Sumatera akan menjadi sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional. Koridor Jawa menjadi pendorong industri dan jasa nasional. Kalimantan menjadi pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional, sedangkan Sulawesi dikembangkan di pertanian, perkebunan, dan migas.

Adapun Bali-Nusa Tenggara fokus pada pariwisata dan pendukung pangan. Koridor Papua dan Maluku untuk memenuhi pangan, perikanan, energi, dan pertambangan.

Sumber: kompas.com