Ratusan Siswa Unjuk Kemampuan di Lomba Kompetensi Siswa SMK 2019

13 Juli 2019 Berita Pendidikan


Sebanyak 759 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari 34 provinsi unjuk kemampuan di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2019, di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Perhelatan yang memasuki kali ke-27 ini melombakan sebanyak 32 jenis bidang lomba. Perlombaan yang berlangsung selama empat hari, dari tanggal 9 s.d. 12 Juli, mengangkat tema "Kompeten Menyongsong Industri 4.0."

M. Bakrun, selaku Direktur Pembinaan SMK Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dir. PSMK Dirjen Dikdasmen Kemendikbud) menjelaskan penyelenggaraan LKS merupakan ajang mempertemukan para siswa berprestasi dengan para pelaku Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kompetisi ini turut menyelenggarakan pameran produk inovasi siswa, dan sertifikasi kompetensi bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan persetujuan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi profesi (BNSP).


Bakrun menambahkan sebanyak 61 Dunia Usaha dan Dunia Industri turut berpartisipasi untuk menyalurkan para peserta didik dengan lahan pekerjaan yang ditawarkan DUDI (job matching). Selain itu, ajang ini juga sebagai wadah pertukaran budaya, dan studi wisata peserta LKS 2019. pertukaran budaya dengan mengirimkan masing-masing perwakilan provinsi untuk berkunjung ke salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta.

Pelaksana Tugas Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Didik Suhardi, mengapresiasi keterlibatan sekolah, dan siswa pada ajang LKS 2019. Menurutnya, partisipasi para siswa merupakan bentuk perkembangan kualitas pendidikan SMK yang terus meningkat di seluruh tanah air. LKS ini tentu bukan hanya sekedar lomba tetapi merupakan ajang unjuk kerja yang dalam kesempatan lomba ini akan ditampilkan yaitu anak-anak kita yang berprestasi di bidangnya. Sehingga, lanjut Didi, prestasi masing-masing siswa dapat menggambarkan perkembangan peningkatan kualitas pendidikan SMK di seluruh tanah air.

Didik berharap pemerintah daerah dapat proaktif untuk menyelaraskan penyelenggaraan SMK dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga para lulusan SMK dapat terserap di dunia kerja. Mohon fleksibilitas penyelenggaraan SMK betul-betul di sesuaikan dengan dunia kerja. Terkait penyelenggaraan SMK, Didik yang merangkap Sekretaris Jenderal Kemendikbud, mengharapkan adanya evaluasi jurusan-jurusan yang ditawarkan di masing-masing SMK, agar dapat memperbesar peluang kerja para lulusan SMK. Kami betul-betul mengharapkan bahwa pada saatnya nanti tidak ada satu pun anak SMK yang ketika lulus kemudian menganggur. Beberapa jurusan, lanjut Didik, dapat dipertimbangkan untuk dievaluasi agar bisa diisi oleh para siswa SMK. Didik mencontohkan, terdapat sebanyak hampir 1.250.000 siswa pada jurusan administrasi. Jumlah ini, menurut Didik, dapat meluluskan hampir 300.000 s.d. 400.000 siswa setahun. Tentu jumlah ini luar biasa besar, di sisi lain, anak-anak kita yang mungkin ditampung di dunia kerja bisa jadi tidak lebih dari 50 persen.

Kerja sama dengan DUDI pun turut mengemuka pada pembukaan LKS 2019. Didik mengimbau agar SMK dapat memiliki partner DUDI untuk sarana berlatih kerja. Prinsipnya SMK adalah berlatih, sehingga ketika mereka terjun ke dunia kerja mereka betul-betul sudah siap. Oleh karena itu, mestinya tidak ada satu pun SMK yang tidak punya partner dunia kerja. Dengan demikian, lanjut Didik, setiap lulusan satuan SMK bisa siap ditempatkan di dunia kerja.

Sri Sultan Hamengkubowono X, Gubernur DI Yogyakarta, turut mengapresiasi para siswa SMK. Menurutnya, prestasi para siswa di kancah internasional khususnya, seperti kompetisi World Skill Asia, dapat membantah stereotip negatif SMK yang masih minim, khususnya dalam penguasaan teknologi. Siswa lulusan SMK Indonesia meraih juara umum kompetisi World Skill Asia Tahun 2018 membuktikan prestasi siswa SMK, dengan dengan memborong 6 medali emas dan 3 perak, capaian ini melebihi target 3 emas dari 17 bidang yang dilombakan.

Selanjutnya, Sri Sultan pun menambahkan perkembangan dunia industri menuntut kualitas dari lulusan para siswa SMK. Pola pembelajaran kita harus memacu ketelitian dan relevansi dengan dunia nyata, dan memadukan ilmu dengan kecakapan hidup. Selanjutnya, perlu terdapat inovasi bagi pola pembelajaran siswa, dari pola pembelajaran eksprerimen ke pembelajaran berbasis pengalaman (experiental learning) menuju pembelajaran inovatif berbasis kreatifitas untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Disinilah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) saling terpadu dengan kebijakan pendidikan, industri, danb pengembangan iptek. Kemudian, penerapan pembelajaran harus berupa berbasis inovasi untuk mewujudkan ekosistem pendidikan di sekolah.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari kemdikbud.go.id)