Provinsi NAD Capai Target Wajar Dikdas 9 Tahun

31 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengemukakan Provinsi NAD termasuk provinsi yang sudah mencapai target nasional. Dia menyebut, Provinsi NAD termasuk satu diantara tujuh provinsi lain yang mencapai APK dan UN di atas rata-rata nasional. Provinsi NAD dapat disejajarkan dengan Provinsi Sumatera Utara, Riau, Bali, Jawa Timur, DIY, dan DKI Jakarta. Ini luar biasa, dari sisi APK sudah cukup bagus, dari mutu memang sedikit di bawah rerata nasional, tapi target nasional tujuh, sudah tercapai, katanya pada kunjungan kerja di Pendopo Kantor Gubernur Provinsi NAD, Aceh pada hari ini. Pada kunjungan kerja tersebut Mendiknas didampingi sejumlah pejabat eselon I dan II lingkup Depdiknas. Turut mendampingi Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Ace Suryadi, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto, Direktur Pembinaan TK dan SD Mudjito, Direktur Pembinaan SMP Hamid Muhammad, dan Direktur Pembinaan SMK Joko Sutrisno. Dalam kunjungan kerja tersebut Mendiknas melakukan dialog bersama Gubernur Provinsi NAD Irwandi Yusuf beserta jajarannya. Bambang menyampaikan secara umum tingkat buta aksara Provinsi NAD tidak ketinggalan. Secara nasional, tutur dia, tingkat buta aksara pada 2006 sebesar 8,07, sedangkan tingkat buta aksara Aceh sudah mencapai 5,72 . Mendekati target nasional lima persen, ujarnya. Lebih lanjut Bambang mengatakan buta aksara di Provinsi NAD bukan merupakan permasalahan yang serius.Yang serius adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Ini yang terlalu jauh di bawah rerata nasional, katanya. Menurut Bambang Provinsi NAD harus mencari strategi bagaimana memperluas APK PAUD. Tidak harus TK (Taman Kanak-kanak) , TK itu sangat mahal, yang nonformal pun tidak apa-apa.Taman bermain dibangun diteras pun boleh kok. Taman Alquran, jangan hanya diajari baca Alquran, tetapi berikan pendidikan akhlak, pendidikan yang membuat mereka ceria dan bermain, paparnya. Bambang mengatakan, PAUD sangat menentukan sukses pendidikan di tingkat selanjutnya. Statistik menunjukkan, mereka yang menempuh PAUD, drop out rate-nya jauh lebih rendah dan sukses rate-nya jauh lebih tinggi dibanding yang tidak menempuh PAUD, ungkapnya. Bambang menyampaikan untuk perbaiki sarana prasarana sekolah bantuan disalurkan melalui dana dekonsentrasi sebesar Rp.37,10 miliar pada 2006 dan Rp.23,49 miliar pada 2007. Sementara, lanjut dia, melalui dana alokasi khusus (DAK) dialokasikan Rp.147 miliar pada 2006 dan Rp.225,64 miliar pada 2007. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NAD Anas M Adam melaporkan sebanyak 1150 sekolah terbakar selama konflik. Dia mengatakan, 96 dari sekolah tersebut ruang kelasnya sudah terbangun kembali. Dana pembangunan berasal dari APBN, APBD, serta bantuan dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota lainnya. Lebih lanjut Anas mengungkapkan akibat gempa bumi dan tsunami pada 2004 telah rusak 1755 sekolah dan 2205 lembaga pendidikan nonformal (PNF). Sebanyak 1195 diantaranya rusak berat dan total.

Hingga akhir tahun 2006 sudah 45 dari sekolah telah terbangun kembali. Dana bersumber dari pemerintah, lembaga donor, dan NGO," ujarnya. Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi NAD Mendiknas meresmikan sebanyak 49 unit sekolah. Peresmian tersebut dipusatkan di Desa Baet Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar. Sekolah-sekolah tersebut terdiri satu PAUD percontohan, dua TK pembina, satu sekolah luar biasa (SLB) pembina, 26 SMP, tujuh unit SMA, 12 unit SMK. Selain itu diresmikan juga 14 sekolah dasar (SD) bantuan UNICEF.

Sumber: GIM

sumber: diknas.co.id