Perpustakaan Belum Dikemas Atraktif

15 Desember 2009 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Perpustakaan-perpustakaan di Indonesia belum dikemas secara atraktif untuk menarik masyarakat gemar membaca. Padahal, perpustakaan yang menarik bisa jadi upaya awal untuk membangun kesadaran masyarakat pentingnya menjadikan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar yang penting.

Menteri Pendidikan Nasinal (Mendiknas) Mohammad Nuh dalam pembukaan Seminar Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Jakarta, Senin (14/12/2009), mengemukakan selama ini orang meletakkan paradigma perpustakaan sebagai dapur, sehingga tidak perlu dikemas dalam bentuk yang atraktif. "Tampilan perpustakaan perlu diubah, mulai dari bangunan, tanpa harus dirobohkan, lalu akrab dengan teknologi, dan update bahan-bahan, " ujar Nuh.

Perpustakan itu, lanjut Nuh, bukan sesuatu yang harus ditaruh di belakang seperti lazimnya sekadar pelengkap penderita. Perpustakaan mesti menjadi tempat di depan untuk memberikan bimbingan, bahan-bahan pencerdasan bagi masyarakat.

Nuh menyampaikan, untuk menumbuhkan gemar membaca harus menyiapkan pertama adalah bahan bacaan. Untuk buku, berarti bentuk fisiknya mesti menarik. Setalah itu, karakter atau huruf dalam bahan bacaan.

Selanjutnya, hal yang sangat substantif adalah isi dari buku itu sendiri. "Menjadi tantangan bagi para penulis kita termasuk kita semua untuk membiasakan menulis dan isi dari tulisan itu harus bisa memberikan pencerahan dan pencerdasan bagi kita semua," kata Nuh.

Jika dilihat dari sisi pembaca, jelas Nuh, perhatian yang utama adalah menumbuhkan ketertarikan. "Oleh karena itu, kita bangun kesadaran bersama-sama, kita ajak kawan-kawan untuk membiasakan menulis dan menyiapkan bahan bacaan secara atraktif dan menarik," kata Nuh.

Pelaksana Tugas Perpustakaan Nasional, Liliek Sulistyowati mengatakan diantara ciri masyarakat yang berbudaya baca tinggi adalah besarnya apresiasi mereka terhadap buku, pengarang, dan penulis. Terdapat hubungan yang positif antara minat baca, kebiasaan membaca, serta kemampuan membaca dan menulis. "Minat baca yang tinggi akan menimbulkan kebiasaan membaca yang baik, sehingga mempertinggi kemampuan seseorang di dalam membaca dan menulis," kata Liliek.

ELN

Editor: made

sumber: kompas.com