Perlu Tingkatkan Pendidikan Kepramukaan

19 Mei 2010 Berita Pendidikan


Untuk membangun karakter bangsa dan keterampilan yang tinggi, pendidikan di Indonesia selama ini dinilai kurang cukup menyeimbangkan antara pendidikan akademis dengan pendidikan non-akademis. Oleh sebab itu, untuk membangun karakter bangsa yang kuat dan memiliki keterampilan, Wakil Presiden Boediono mendukung pendidikan kepramukaan dan keolahragaan dan kepemudaan untuk dapat ditingkatkan lagi dalam kurikulum sekolah.
Demikian diungkapkan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dalam keterangan pers seusai mengikuti rapat koordinasi mengenai pendidikan di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (18/5/2010) petang tadi. Rapat dipimpin Boediono selaku Ketua Komite Pendidikan dan dihadiri sejumlah menteri di antaranya Menko Kesejahteraan Agung Laksono, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Agama Suryadharma Ali, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal, Wakil Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Lukita D Tuwo dan perwakilan Menteri Keuangan.

"Pendidikan nonakademis sekarang ini dirasakan masih belum cukup dibandingkan pendidikan akademis. Oleh sebab itu, perlu diseimbangkan antara akademis dan nonakademis jika ingin mendapatkan karakter bangsa yang tangguh dan kuat serta berketerampilan tinggi, selain juga unggul di bidang keilmuaan," tandas Andi.

Menurut Andi, untuk berprestasi bangsa Indonesia jangan hanya melulu unggul di bidang akademis, tetapi juga dalam karakter dan keterampilannya. Memang, kata dia, olahraga dan kepramukaan diajarkan di sekolah, akan tetapi, belum ada peningkatan dan pembinaan secara khusus untuk kedua bidang tersebut.

"Banyak anak-anak berpakaian pramuka, akan tetapi belum diikuti karakter dan keterampilan yang menunjang," lanjut Andi.

Oleh karena itu, kata Andi, Wapres mendukung agar guru-guru di sekolah mendapat latihan khusus untuk pendidikan jiwa kepramukaan, kepemudaan dan keolahragaan. "Diharapkan, siswa memiliki jiwa pandu dan kepramukaan yang tinggi selain keterampilan dan kesigapan sebagai pemuda," papar Andi.

Di tempat yang sama, Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat, menambahkan, Wapres meminta para menteri terkait untuk lebih secara khusus mengkaji sistem pengadaan buku pelajaran secara nasional. "Tujuannya, agar buku tidak selalu menjadi masalah orang tua murid, terutama di tahun ajaran baru dimulai," kata Yopie.

Tentang Komite Pendidikan, Yopie menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetui pembentukannya dan sudah dibahas di Sidang Kabinet. Ketua harian komite ini dipimpin Agung Laksono dengan anggota menteri terkait pendidikan, kepemudaan, keolahragaan dan agama.

sumber: kompas.com