Berita Pendidikan
1 Oktober 2009

Perbandingan SMK -SMA Diperkecil

Tantangan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk lebih mandiri dan tamat langsung kerja ditanggapi serius oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Utara (Sumut).

Salah satunya memperhatikan jumlah perbandingan SMK dan SMA angkanya tidak akan jauh berbeda. Program Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tentang pembalikan rasio siswa SMK dan SMA menjadi 70: 30 pada 2015 juga mulai diterapkan di Sumut. Namun, rasio pembalikan untuk Sumut ditargetkan berkisar pada 33: 67 untuk 2014.

Program untuk 2010 dari pemerintah pusat,yakni kita harus mencapai yang perpaduan 15 target hingga 2014.Yang pertama adalah angka apresiasi kasar (APK) SMK dan SMA nasional adalah 85, sedangkan untuk provinsi adalah 70.

Minimal untuk kota 65 dan kabupaten 60 serta target rasio pembalikan mencapai 33 SMA dan 67 SMK, ujar Erni Mulatsih selaku Kepala Sub Dinas SMK Disdik Sumut di ruang kerjanya kemarin. Erni menambahkan, diharapkan setahun menuju 2015,rasio 3 lainnya akan dicapai.Pada 2015, Mendiknas menginginkan harus rasio 70 SMK dan 30 SMA bisa tercapai.

Makanya di Sumut 67: 33 pada 2014 bisa dicapai dan 3 lebihnya bisa dicapai setahun ke depan, paparnya. Menuju ke arah tersebut, Erni menyatakan, yang perlu dibenahi adalah soal sarana dan prasarana. Kemudian harus ada sosialisasi program pemerintah tentang pembalikan rasio.Terutama sosialisasi kepada pengambil kebijakan, baik itu bupati maupun wali kota.

Jika mereka tidak tahu, bisa-bisa mereka akan terus membangun SMA,tuturnya. Untuk menunjang lulusan SMK siap pakai, sesuai instruksi Mendiknas, Disdik Sumut juga membuat program Tim Pengembang Kurikulum (TPK).Kami juga harus bekerja sama dengan dunia usaha.Saat ini yang baru kami terapkan di Sumut, yakni TPK dan menunggu di-SK-kan.

Program ini bukan hanya dari guru dan pengawas, juga memasukkan dosen, dunia usaha dan industri,juga Badan Koordinasi Sertifikasi Pendidikan (BKSP),paparnya. Dari kalangan dosen berasal Unimed untuk menghasilkan guruguru SMK.Disdik Sumut telah berupaya untuk lulusan SMK tidak menganggur,termasuk melibatkan dunia usaha dan industri (Dudi).

Karena kita mau melihat apa yang diinginkan Dudi dari tamatan SMK.Kita tidak terlepas dari dunia usaha karena mereka pengguna (user). Para Dudi juga pasti ingin pekerja yang pendidikan tiga tahun, tetapi bisa bekerja secara profesional seperti yang kita usahakan di SMK,ungkapnya. TPK ini berjumlah sekitar 25 orang.

Meski belum di-SK-kan,mereka telah mulai bekerja untuk membuat program ini dengan baik. Kami juga mau buka situs dan blog SMK.Kami sudah persiapkan.Pada waktu nanti pergantikan PP 41 (struktur perangkat daerah) di sini, eselon yang baru bisa meneken, mudah-mudahan belum sampai 2010 bisa di-SK-kan,ungkapnya.

Erni menamabhkan, perubahan rasio yang digemborkan menteri berawal dari pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran. Ternyata, berdasar data statistik yang memberikan kontribusi terkecil untuk pengangguran adalah SMK, pastinya SMK jarang yang menanggung,paparnya. Sebelumnya, pengamat pendidikan Kota Medan Sofyan Tan menyatakan, tamatan SMK memang harus lebih mandiri dibanding SMA. (nina rialita)

Sumber: Seputar-Indonesia.Com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris