Perbaiki Kurikulum Sejarah dan Sastra

1 Oktober 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA - Kurikulum pelajaran Sejarah dan Sastra khususnya di sekolah harus segera diperbaiki. Hal ini diungkapkan oleh peneliti budaya, Hilmar Farid, Kamis (30/9/2010) saat menghadiri acara dialog budaya Ikatan Alumni Fakultas Budaya Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI).

"Pelajaran sejarah di kelas biasanya membosankan, tidak ada daya tariknya sama sekali bagi anak didik," ungkap Hilmar.

Hilmar menambahkan, kurikulum sejarah berubah dari waktu ke waktu, tetapi masalah dasarnya adalah keterlibatan guru dalam proses ini. "Guru banyak tidak membaca mengenai sejarah, anak-anak di sekolah susah belajar, nah karena gurunnya saja tidak mengerti," tandas Hilmar.

"Untuk itu kita perlu kurikulum khususnya mengenai pelajaran sejarah kurikulum yang berpijak," lanjut Hilmar.

Disinggung mengenai pelajaran sastra, di era sekarang ini Hilmar mengatakan kita tidak memiliki panutan sastrawan yang menjadi patokan dan mencirikan bangsa ini. "Jika kita tanya kepada anak-anak tentang idola sastrawan mereka pasti sebutnya beda-beda, karena kita tiap angkatan memiliki sastrawan yang berbeda sehingga tidak pernah ada sambungan dan kesatuan," ujar Hilmar.

"Harusnya bikin saja 100 daftar buku dengan karya sastrawan yang wajib dibaca orang Indonesia, dan itu bisa dilakukan lewat mana saja misalnya lewat pendidikan," tandas Hilmar.

Sumber: edukasi.kompas.com