Pengacakan Lokasi Tambah Beban Mental Peserta UN

25 November 2009 Berita Pendidikan


YOGYAKARTA, KOMPAS.com -Rencana pengacakan lokasi pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran ini menambah beban psikologis pelajar. Sekolah berupaya menguatkan mental pelajar melalui imbauan maupun acara peningkatan motivasi.

Pengacakan lokasi pelaksanaan pada ujian nasional (UN) tahun ajaran 2009/2010 ini tercantum dalam peraturan menteri pendidikan nasional Nomor 75/2010 tentang UN pasal 14. Peraturan baru tersebut membuat sejumlah pelajar cemas karena berbagai kesulitan teknis yang mungkin timbul. Sebelumnya, mereka juga telah diresahkan dengan jadwal UN yang dipercepat yang diumumkan secara mendadak. "Bisa jadi tempat ujian jauh atau sulit dijangkau," ujar pelajar XII IPA SMA Santa Maria Yogyakarta, Rucita Nandisa Putri (17), Selasa (24/11).

Wakil Kepala SMA Negeri 11 Yogyakarta Budi Basuki mengatakan, beban psikologis peserta UN tahun ini semakin berat dengan adanya percepatan waktu dan pengacakan lokasi UN. Untuk mengatasinya, SMKN 11 Yogyakarta mengadakan sejumlah acara peningkatan motivasi, antara lain achievement motivation training dan emotional and spiritual intelegence (ESQ).

Sejumlah sekolah juga memberikan imbauan di kelas agar pelajar tidak perlu merasa tertekan menghadapi pengacakan lokasi UN.

Menurut Kepala SMA Negeri 6 Yogyakarta Rubiyatno, pengacakan lokasi UN dipastikan akan menimbulkan sejumlah kerumitan teknis, salah satunya pada pendataan serta pemetaan penempatan peserta UN. Pengacakan lokasi juga akan membuat kesalahan pengisian nomor lembar jawab berakibat fatal. "Pelajar masih sering salah atau lupa memasukkan nomor peserta atau kode soal. Kalau di sekolah sendiri, nomor yang benar akan lebih mudah dilacak, tapi kalau di tempat lain akan sulit," ujarnya.

Rubiyatno berharap pengacakan tidak dilakukan secara total, yaitu rombongan dari satu sekolah bisa ditempatkan di satu lokasi atau setidaknya hanya ada dua sekolah di satu lokasi. Selain untuk mengurangi kesulitan teknis, hal ini juga untuk menghindari stres pelajar bertambah. "Mereka akan lebih tertekan kalau tidak kenal siapa pun di lokasi ujian," katanya.

POS belum turun

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Suyono mengakui telah menerima peraturan mengenai pengacakan lokasi UN sejak sebulan yang lalu. Akan tetapi, hingga saat ini pihaknya belum bisa mempersiapkan panduan prosedur operasional standar (POS) pelaksanaan UN belum diterima.

"Aturan itu baru ada di permendiknas, namun implementasinya di lapangan nanti harus bagaiamana belum jelas, apakah akan dipindah satu sekolah sekaligus atau peserta harus dicampur dengan sekolah lain," tuturnya.

Terlambatnya POS dan dipercepatnya waktu penyelenggaraan ini membuat persiapan UN tahun ini lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya POS sudah diterima di awal November untuk pelaksanaan UN pada Bulan Mei. "Tahun-tahun sebelumnya kami punya waktu persiapan sekitar enam bulan, tapi tahun ini kami tinggal punya waktu persiapan empat bulan, padahal banyak sekali perubahan mendasar yang belum kami ketahui kepastiannya," ujar Kepala Bidang Perencanaan dan Standarisasi Dinas Pendidikan pemuda dan Olahraga Provinsi DIY Baskara Aji.

Sejumlah pihak berharap POS turun secepatnya agar persiapan bisa segera dilakukan. Sekolah juga menunggu POS untuk kepastian jadwal serta standar nilai kelulusan.

IRE

Editor: made

sumber: kompas.com