Pendidikan Tinggi yang Berpijak di Bumi

16 Desember 2009 Berita Pendidikan


Pendidikan tinggi bukanlah menara gading, melainkan lembaga yang semestinya berpijak di bumi. Dengan demikian, pendidikan tinggi harus mengangkat kearifan lokal.

Hal itu disampaikan Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Stephanus Djawanai, ketika memberikan orasi ilmiah berjudul Universitas Flores Mengubah Pola Pikir Anak Indonesia, Selasa (15/12/2009) di acara wisuda sarjana dan diploma Universitas Flores (Uniflor) periode Desember 2009 angkatan ke-23 di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Pendidikan tinggi membutuhkan paradigma ekologis baru yang menuntut adanya visi, nilai, dan kearifan baru yang berpijak pada kearifan lokal yang ada," kata Stephanus Djawanai.

Menurutnya, salah satu tolok ukur kadar keberhasilan pendidikan itu apabila pendidikan mampu berakar pada budaya dan bermuara pada kreativitas, imajinasi, dan inovasi. Hal itulah yang mencirikan kesarjanaan yang benar.

Pasalnya, perubahan yang terjadi dari laju roda pembangunan dapat menimbulkan dampak yang berbahaya jika tidak berangkat dari akar kearifan lokal yang dipegang kuat. Di bidang teknik dan teknologi, misalnya, ada kearifan lokal pada pembangunan bendungan tradisional di daerah persawahan Turawuda, Soa, Kabupaten Ngada, Flores.

Bahan yang digunakan sederhana, yakni bambu aur untuk dua baris patok tegak sebagai penyanggah. Selain itu, ada ijuk, tanah liat, dan batu yang disusun ke atas bertumpuk untuk membentuk bendungan kecil sehingga air terbendung, tetapi sebagian air tetap dapat merembes. Bendungan-bendungan tradisional itu kecil, tetapi fungsional.

Apabila bendungannya jebol atau rusak, maka tidak pernah terjadi bencana banjir. Sementara itu, para ahli teknik modern banyak yang hanya paham membangun bendungan-bendungan besar terbuat dari beton yang menelan biaya sampai miliaran rupiah.

"Saya tidak bemaksud memperkecil apalagi meremehkan pengetahuan keteknikan modern yang diperoleh dari proses belajar di perguruan tinggi. Yang ingin saya tekankan ialah bahwa dengan menggunakan pengetahuan tradisional, dengan modal terbatas, dan dikerjakan bersama dalam pola gotong royong, masyarakat tradisional dapat membangun bendungan atau empang sederhana. Di sana mereka dapat pula memelihara udang, ikan, dan belut untuk dikonsumsi," katanya.

Bahkan menurut dia, dengan bahan-bahan kearifan lokal, para dosen pun tidak akan kehabisan bahan untuk membuat tulisan ilmiah atau penelitian untuk membuat portofolio guna kenaikan karier.

SEM/Editor: jimbon

Sumber: Kompas.Com