Pendidikan Tinggi Ikuti Mekanisme Pasar

13 Juli 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Peran negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dipertanyakan dalam pembiayaan pendidikan tinggi saat ini. Karena kucuran dana bagi perguruan tinggi sangat minim, untuk bertahan hidup dan mengembangkan diri, pengelola perguruan tinggi terpaksa menerapkan mekanisme pasar.

"Kalangan berduit memiliki peluang lebih besar menikmati pendidikan tinggi," kata Soedijarto, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta sekaligus Ketua Dewan Pembina Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), di Jakarta, Senin (11/7/2011).

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rohmat Wahab mengatakan, tidak adil jika menuding perguruan tinggi mengenakan tarif mahal bagi mahasiswa. Menurut dia, unit cost mahasiswa program studi ilmu sosial sekitar Rp 22 juta per tahun, sedangkan mahasiswa program studi eksakta Rp 26 juta-Rp 28 juta per tahun.

"Biaya yang dikenakan kepada mahasiswa jauh lebih murah dari unit cost-nya," kata Rohmat.

Padahal, di sisi lain, perguruan tinggi juga harus mengembangkan diri antara lain dengan membangun ruang kuliah baru, ruang laboratorium, menambah koleksi buku perpustakaan, dan melakukan penelitian.

Sumber: kompas.com